JAKARTA.WAHANANEWS.CO - Dalam upacara yang khidmat dan singkat, Paus Leo XIV mengakhiri Tahun Jubelium Pengharapan 2025 dengan menutup Porta Santa (Pintu Suci), Basilika St. Petrus, Vatikan, pukul 10.00 waktu Roma, pada Selasa (6/1/2026).
Lalu dilanjutkan dengan Misa Epifani (Penampakan Tuhan), yang diikuti 5.800 umat, termasuk Korps Diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, Vatikan.
Baca Juga:
Menteri Agama Ingatkan Deklarasi Istiqlal - Vatikan dalam Seminar Moderasi Beragama
Selama setahun lebih, suasana berziarah sangat terasa di Lapangan Santo Petrus (juga di tiga basilika lainnya: Basilika St Paulus di luar Tembok, Basilika Yohanes Lateran, dan Basilika Santa Maria Maggiore).
Di empat basilika itu setiap hari, selama setahun lebih, dari pagi hingga lepas senja, terdengar doa dan nyanyian dalam berbagai bahasa di tempat itu, sesuai dari mana para peziarah berasal.
Ada yang berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Jepang, China, Korea, Filipina, Portugal, dan Indonesia, mungkin masih ada bahasa lainnya.
Baca Juga:
Paus Leo XIV Ajak Media Menjadi Penabur Damai dan Penebar Kasih
Menurut Uskup Agung Rino Fischella, pro-prefect of the Dicastery for Evangelization, dalam jumpa pers hari Senin (5/1), di Vatikan, hampir 33,5 juta peziarah datang ke Roma, sepanjang Tahun Jubelium.
Mereka berasal dari 185 negara, termasuk Indonesia. Sebanyak 7.000 relawan ambil bagian sepanjang Tahun Jubelium dalam berbagai acara.
Meskipun, belakangan ini diberitakan bahwa kehidupan beragama di Eropa makin turun, tapi menurut data yang ada, dari hampir 33,5 juta peziarah itu, 62 persen dari Eropa, disusul Amerika Utara (17 persen), sisanya dari pelosok dunia lainnya.
Peziarah dari Italia paling banyak, disusul AS, Spanyol, Brasilia, dan Polandia.
Sejak Tahun 1300
Tahun Jubelium Pengharapan (Tahun Suci) 2025, dimulai pada tanggal 24 Desember 2024, pukul 19.00 yang ditandai dengan pembukaan Porta Santa, Pintu Suci, Basilika St. Patrus oleh Paus Fransiskus.
Kemudian dilanjutkan dengan Misa Malam Natal. Saat itu, Paus Fransiskus menjelaskan bulla atau dekrit Jubelium Pengharapan yakni Spes non Confundit, Pengharapan tidak Mengecewakan.
Kata Paus Fransiskus, setiap orang tahu apa artinya berharap. Di dalam hati setiap orang, harapan berdiam sebagai hasrat dan harapan akan hal-hal baik yang akan datang, meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Meskipun demikian, ketidakpastian tentang masa depan terkadang dapat menimbulkan perasaan yang saling bertentangan, mulai dari keyakinan yang kuat hingga kekhawatiran, dari ketenangan hingga kecemasan, dari keyakinan yang kuat hingga keraguan dan keragu-raguan
Sering kali kita menjumpai orang-orang yang putus asa, pesimis, dan sinis tentang masa depan, seolah-olah tidak ada yang mungkin dapat membawa mereka kebahagiaan. Bagi kita semua, semoga Yubelium menjadi kesempatan untuk diperbarui dalam harapan.
Sejarah Tahun Yubelium kembali ke tahun 1300. Adalah Paus Paus Bonifacius VIII, (bertakhta, (1294–1303), yang pada tanggal 22 Februari 1300 memaklumkan Tahun Yubileum pertama, yang disebut Tahun Suci lewat bulla, dekrit Antiquorum habet fida ralatio, Orang dahulu mempunyai laporan yang dapat diandalkan.
Semula, Tahun Yubelium dilaksanakan setiap 100 tahun, tapi dalam perjalanannya karena berbagai pertimbangan, pada tahun 1475 oleh Paus Sixtus VI diubah menjadi 25 tahun sekali hingga saat ini.
Jerusalem Baru
Upacara penutupan Porta Santa, hari Selasa kemarin merupakan kelanjutan dari praktik yang ditetapkan sejak tahun 1975, dan disederhanakan lebih lanjut oleh Paus Santo Yohanes Paulus II selama Yubelium Agung Tahun 2000.
Upacara penutupan Porta Santa secara singkat. Saat antifon, nyanyian pendek “O clavis David” (O Kunci Daud) dilantunkan, Paus Leo XIV berjalan mendekati Porta Santa, Pintu Suci. Paus melangkah ke ambang pintu, berlutut, dan, setelah beberapa saat berdoa dalam diam, lalu menutup kedua daun pintu perunggu yang besar itu, mulai dari daun pintu kanan.
Ini menandakan masa Yubelium Pengharapan telah berakhir. Saat menutup Porta Santa, Paus Leo XIV, seperti para pendahulunya mendaraskan doa, “Pintu Suci ini tertutup, tetapi pintu rahmat-Mu tidak tertutup.”
Lalu, Paus memohon agar “harta karun” rahmat ilahi tetap terbuka, “sehingga, pada akhir ziarah duniawi kita, kita dapat mengetuk dengan penuh keyakinan di pintu rumah-Mu dan menikmati buah dari pohon kehidupan.”
Penutupan Porta Santa Basilika St. Petrus, Vatikan, kata Paus Leo XIV, menandai berakhirnya berbulan-bulan di mana “arus tak terhitung banyaknya pria dan wanita, peziarah harapan,” melintasi ambang pintu Basilika, melakukan perjalanan menuju “Yerusalem baru, kota yang pintunya selalu terbuka.”
Dengan demikian Tahun Jubelium Pengharapan yang bermotto Peregrinantes in Spem atau Pilgrims of Hope atau "Penziarah Pengharapan", berakhir.
Tema atau motto itu ditetapkan Paus Fransiskus setelah melihat perannya sendiri, dan peran Gereja di dunia yang penuh dengan krisis dan konflik. Krisis dan konflik saat ini telah mengoyak dunia.
Generasi Fajar Baru
Segera setelah penutupan Pintu Suci, Paus memimpin Misa Kudus untuk Hari Raya Epifani Tuhan di dalam Basilika Santo Petrus.
Dalam khotbahnya, Paus Leo XIV, antara lain mengatakan, tempat-tempat suci harus mengkomunikasikan kehidupan. Tempat-tempat ziarah Yubileum, “harus menyebarkan aroma kehidupan, kesadaran yang tak terlupakan bahwa dunia lain telah dimulai.”
Kata Paus Leo XIV, sungguh luar biasa menjadi peziarah pengharapan.
“Sungguh luar biasa bagi kita untuk terus menjadi peziarah bersama,” katanya.
Paus Leo XIV mengatakan, jika Gereja menolak menjadi monumen dan tetap menjadi rumah, Gereja mungkin akan menjadi “generasi fajar baru,” yang selalu dipandu oleh Maria, Bintang Pagi, menuju “kemanusiaan yang luar biasa, yang diubah bukan oleh khayalan Yang Mahakuasa, tetapi oleh Allah yang menjadi manusia karena kasih.”