Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi relawan nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif kerja sama strategis antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kabupaten Cianjur dalam memperkuat ketahanan pangan.
Nota kesepakatan yang ditandatangani di Kabupaten Cianjur ini dinilai sejalan dengan semangat pembangunan terintegrasi kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagaimana menjadi visi pemerintahan Prabowo–Gibran.
Baca Juga:
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Lapas Muara Enim Panen Raya Serentak Pemasyarakatan
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kolaborasi lintas wilayah seperti Jakarta dan Cianjur merupakan fondasi penting dalam membangun ketahanan nasional dari sektor pangan.
“Ini adalah manifestasi nyata dari semangat aglomerasi Jabodetabekjur. Jakarta tidak bisa berdiri sendiri, dan daerah penyangga seperti Cianjur tidak boleh hanya menjadi penonton. Harus tumbuh bersama,” ujar Tohom.
Menurutnya, keberanian Pemprov DKI Jakarta menjalin kemitraan langsung dengan wilayah produksi pangan adalah langkah strategis yang visioner.
Baca Juga:
Lapas Muara Enim Sukses Gelar Panen Raya, Perkuat Ketahanan Pangan dan Kemandirian Warga Binaan
Ia menilai pendekatan ini mencerminkan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai pilar utama kedaulatan nasional.
“Ketahanan pangan tidak dibangun dari ruang rapat semata, tetapi dari sawah, petani, dan kemitraan yang adil. Inilah semangat yang terus kami gaungkan di MARTABAT Prabowo-Gibran,” tegasnya.
Tohom menambahkan, kerja sama yang melibatkan BUMD pangan DKI Jakarta dengan petani dan pelaku usaha di Cianjur menunjukkan bahwa aglomerasi Jabodetabekjur harus dimaknai sebagai ekosistem produksi–distribusi yang saling menguatkan.
Bukan hanya soal mobilitas penduduk, tetapi juga arus pangan, energi, dan kesejahteraan.
“Jika aglomerasi hanya dipahami sebagai perluasan kota, itu keliru. Aglomerasi harus menjadi sistem berbagi peran: Cianjur sebagai lumbung, Jakarta sebagai pasar, dan negara hadir menjaga keadilan di antaranya,” jelasnya.
Sebagai Ketua Umum Aglomerasi Watch, Tohom Purba juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam kerja sama ini.
Ia mengingatkan agar kemitraan pangan tidak berhenti pada seremoni panen bersama, melainkan diperkuat dengan kepastian harga, pendampingan petani, serta perlindungan varietas unggulan lokal seperti Pandanwangi.
“Aglomerasi yang sehat adalah aglomerasi yang membuat petani sejahtera dan konsumen tenang. Kalau petani tersenyum, stabilitas nasional akan terjaga,” katanya.
Ia pun menilai sinergi DKI Jakarta dan Cianjur dapat menjadi model nasional bagi penguatan ketahanan pangan berbasis wilayah.
Terlebih, kebutuhan pangan Jakarta yang tinggi merupakan peluang besar bagi daerah penyangga untuk naik kelas secara ekonomi.
“Ini contoh konkret bagaimana visi Prabowo–Gibran diterjemahkan di lapangan: kolaboratif, berkeadilan, dan berorientasi jangka panjang,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]