Jakarta.WAHANANEWS.CO - Air kembali meninggi dan mengepung permukiman, banjir di Jalan Pondok Karya, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, naik lagi pada Jumat (23/1/2026) pagi setelah sempat surut pada Kamis (22/1/2026) malam.
Ketinggian banjir pada Jumat mencapai sekitar 85 sentimeter dan membuat kawasan tersebut kembali lumpuh.
Baca Juga:
Potensi Hujan Sangat Lebat, BPBD Ingatkan Risiko Banjir Jakarta
Pantauan di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB menunjukkan ketinggian air sejajar dengan aliran Kali Mampang yang tampak mengalir deras.
Sebanyak sembilan dari sebelas RT di wilayah tersebut terdampak banjir dengan air masuk ke rumah-rumah warga.
Aktivitas warga praktis terhenti akibat genangan yang menutup akses jalan lingkungan.
Baca Juga:
Hujan Deras Lumpuhkan Jakarta, 45 RT dan 22 Ruas Jalan Terendam
Mobilisasi warga harus dilakukan menggunakan perahu karet yang disiagakan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) bersama kepolisian setempat.
Perahu karet juga digunakan untuk mengevakuasi warga yang membutuhkan bantuan keluar dari lokasi banjir.
Seorang warga lanjut usia yang sakit dievakuasi menggunakan kursi roda dan perahu karet menuju ujung jalan arah Jalan Kapten Tendean.
Anak-anak terlihat bermain air di tengah genangan banjir meski kondisi air tampak keruh dan kotor.
Mereka mengaku telah menyelesaikan kegiatan pembelajaran jarak jauh dan sedang beristirahat.
“Tadi sudah belajar, kok,” kata seorang anak tanpa baju sambil bermain-main di aliran air banjir.
Menurut petugas PPSU Pela Mampang, Yanti, hingga saat ini belum ada penanganan teknis yang bisa dilakukan untuk menyurutkan banjir.
“Tingginya air kali membuat kami belum bisa melakukan penanganan, jadi fokus kami hanya evakuasi warga,” ujar Yanti.
Petugas hanya dapat membantu warga untuk keluar dari rumah atau mengevakuasi mereka ke lokasi yang lebih aman.
Yanti mengatakan hingga kini belum tersedia lokasi pengungsian khusus bagi warga terdampak banjir.
“Kebanyakan sih mereka ke tempat sanak saudara sendiri ya,” kata Yanti.
“Pagi ini sudah ada enam orang dievakuasi, mulai dari warga yang sakit sampai yang mau berangkat kerja,” lanjutnya.
Seorang warga setempat, Ahmad (35), mengaku banjir kali ini cukup mengganggu karena datang kembali saat warga belum sepenuhnya bersiap.
“Semalam sempat surut, kami kira sudah aman, ternyata pagi air naik lagi dan langsung masuk rumah,” ujar Ahmad.
Ia berharap ada solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang setiap hujan deras.
“Kalau begini terus capek juga, tiap hujan harus siap-siap ngungsi,” katanya.
Pengamat sosial Universitas Padjadjaran, Domy Sokara, menilai kondisi banjir berulang ini berdampak besar pada ketahanan sosial warga perkotaan.
“Banjir yang terus berulang bukan hanya persoalan infrastruktur, tapi juga menguras energi sosial masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak,” ujar Domy Sokara.
Menurut Domy, penanganan banjir perlu disertai dengan kebijakan sosial yang memastikan warga memiliki akses evakuasi, informasi, dan perlindungan yang memadai.
“Tanpa pendekatan yang menyeluruh, warga akan terus berada dalam siklus darurat yang sama setiap musim hujan,” katanya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]