Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mulai mengkaji pembangunan jalan layang (flyover) di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Menurut MARTABAT, kebijakan tersebut harus dibaca dalam kerangka besar aglomerasi Jabodetabekjur agar penanganan banjir dan kemacetan tidak lagi bersifat parsial, melainkan terintegrasi lintas wilayah.
Baca Juga:
Jakarta Bidik 50 Kota Global Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran: Aglomerasi Jabodetabekjur Fondasi Daya Saing
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pendekatan struktural yang dipilih Pemprov DKI merupakan langkah tepat dan sejalan dengan visi pembangunan nasional pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
“Persoalan Daan Mogot bukan sekadar genangan musiman. Ini adalah konsekuensi dari tata ruang yang belum sepenuhnya adaptif terhadap perubahan iklim dan pertumbuhan urban. Jika jalan tetap sejajar dengan elevasi sungai, maka setiap hujan ekstrem akan menjadi ancaman berulang. Karena itu, solusi harus bersifat struktural dan visioner,” ujar Tohom, Rabu (18/2/2026).
Ia menilai rencana pembangunan flyover sepanjang lebih dari dua kilometer tersebut tidak hanya menjawab persoalan teknis di lapangan, tetapi juga menjadi simbol perubahan paradigma pembangunan di kawasan Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: F1 Powerboat Jadi Etalase Global Pariwisata Danau Toba
Menurutnya, wilayah Daan Mogot yang berbatasan langsung dengan daerah penyangga menjadikan masalah banjir dan kemacetan sebagai isu regional, bukan semata persoalan administratif Jakarta.
“Kita berbicara tentang aglomerasi Jabodetabekjur. Air tidak mengenal batas kota, kendaraan juga tidak berhenti di garis administratif. Maka perencanaan infrastruktur harus disatukan dalam satu orkestrasi kawasan metropolitan,” katanya.
Tohom menyoroti bahwa pengakuan pemerintah daerah mengenai keterbatasan kapasitas jalan eksisting yang sejajar dengan aliran Sungai Mookervart menunjukkan adanya kesadaran baru terhadap akar masalah.
Ia menyebut, normalisasi sungai, pompanisasi, hingga pembangunan polder memang penting sebagai mitigasi operasional, namun tanpa perubahan elevasi dan desain jalan, risiko banjir akan tetap berulang.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi pembangunan empat rumah pompa di sepanjang Jalan Daan Mogot dengan total kapasitas 11,5 meter kubik per detik, serta pembangunan Saluran Gendong di sisi utara dan selatan.
Namun menurutnya, langkah tersebut harus dilihat sebagai bagian dari sistem terpadu.
“Flyover, pompa, saluran gendong, hingga pengaturan tata guna lahan harus terintegrasi. Kita tidak bisa lagi bekerja dalam silo sektoral. Dalam visi MARTABAT Prabowo-Gibran, aglomerasi Jabodetabekjur harus menjadi model metropolitan modern yang resilien terhadap perubahan iklim,” tegasnya.
Tohom juga mengingatkan bahwa curah hujan di atas 100 milimeter yang hampir pasti menyebabkan luapan air menunjukkan batas kemampuan sistem drainase yang ada.
Karena itu, ia mendorong adanya integrasi data hidrologi, tata ruang, dan transportasi dalam satu sistem perencanaan berbasis teknologi.
“Kita harus masuk ke era smart metropolitan governance. Bukan hanya membangun fisik, tetapi membangun sistem prediktif berbasis data. Dengan begitu, setiap kebijakan infrastruktur memiliki proyeksi jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap krisis,” ucapnya.
Menurut Tohom, kawasan Daan Mogot dapat dijadikan proyek percontohan integrasi penanganan banjir dan transportasi dalam kerangka aglomerasi Jabodetabekjur.
Ia optimis, jika konsep ini dijalankan konsisten, maka wilayah perbatasan Jakarta dengan kota-kota penyangga akan memiliki ketahanan infrastruktur yang lebih kuat.
“Ke depan, kita ingin melihat Jabodetabekjur sebagai satu kesatuan ekosistem perkotaan. MARTABAT Prabowo-Gibran mendukung penuh setiap kebijakan yang berpihak pada solusi jangka panjang, berani mengakui masalah struktural, dan berkomitmen melakukan perubahan mendasar,” tutupnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]