WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terus memperluas pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) dengan meresmikan puluhan taman baru.
Upaya tersebut dinilai sejalan dengan visi besar menjadikan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagai kota global yang berkelanjutan, nyaman dihuni, serta memiliki kualitas lingkungan yang semakin baik bagi masyarakat.
Baca Juga:
Siapa Inisial RV Penguasa Peredaran Minyak Ilegal Provinsi Jambi
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan pembangunan RTH harus terus diperluas dan dipercepat, terutama di wilayah perkotaan yang mengalami tekanan urbanisasi tinggi seperti Jakarta dan kawasan penyangganya.
“Jika kita ingin menjadikan Jakarta dan kawasan Jabodetabekjur sebagai kota global kelas dunia, maka pembangunan ruang terbuka hijau harus dilakukan sebanyak mungkin. Kota global tidak hanya diukur dari gedung pencakar langit, tetapi juga dari kualitas lingkungan hidup dan ruang publik yang sehat,” ujar Tohom, Minggu (15/3/2026).
Ia menilai kebijakan pemerintah daerah yang membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pembangunan taman merupakan langkah progresif yang dapat mempercepat peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.
Baca Juga:
Wali Kota Bandung Pastikan Persoalan Bandung Zoo Segera Tuntas, Satwa dan Pekerja Jadi Prioritas
“Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam membangun taman kota merupakan pendekatan yang sangat tepat. Dengan pola ini, ruang terbuka hijau bisa berkembang lebih cepat tanpa seluruhnya bergantung pada anggaran pemerintah,” katanya.
Menurut Tohom, ruang terbuka hijau memiliki fungsi strategis tidak hanya sebagai ruang rekreasi masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menjaga keseimbangan ekologi kota, mengurangi polusi udara, serta mengendalikan dampak perubahan iklim.
“Kita tidak boleh melihat taman kota hanya sebagai tempat rekreasi. RTH adalah paru-paru kota, ruang interaksi sosial, sekaligus bagian dari sistem ekologis yang menjaga kualitas udara, air, dan kenyamanan hidup warga,” jelasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan pembangunan RTH harus menjadi bagian dari perencanaan kawasan aglomerasi yang terintegrasi, terutama dalam menghadapi pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat di Jabodetabekjur.
“Ke depan, kawasan aglomerasi Jabodetabekjur harus dirancang sebagai metropolitan hijau yang modern dan berkelanjutan. Artinya, pembangunan infrastruktur, transportasi, kawasan permukiman, dan ruang terbuka hijau harus dirancang dalam satu kerangka tata ruang yang saling terhubung,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah taman kota juga akan memperkuat daya tarik Jakarta sebagai kota global yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
“Kota global terbaik di dunia selalu memiliki ruang terbuka publik yang luas, nyaman, dan mudah diakses masyarakat. Jika Jakarta ingin bersaing di tingkat global, maka keberadaan taman kota dan ruang terbuka hijau harus terus diperbanyak dan dijaga kualitasnya,” tuturnya.
Tohom berharap pembangunan puluhan taman baru di Jakarta dapat menjadi pemicu bagi kota-kota lain di kawasan aglomerasi untuk melakukan langkah serupa, sehingga tercipta ekosistem perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya tentang Jakarta, tetapi tentang masa depan kawasan metropolitan terbesar di Indonesia. Jika ruang hijau diperbanyak, maka kota akan menjadi lebih manusiawi, sehat, dan layak huni bagi generasi mendatang,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan pemerintah provinsi akan meresmikan sekitar 23 hingga 25 ruang terbuka hijau baru dalam waktu dekat.
Penambahan taman tersebut dilakukan untuk memperluas ruang publik yang ramah bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan di Jakarta.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]