Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif langkah PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam memperkuat sarana dan prasarana KRL Commuter Line Jabodetabek guna menopang mobilitas urban di kawasan Jabodetabekjur yang menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional.
Penguatan layanan KRL dinilai sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran dalam membangun kawasan aglomerasi yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Peduli Sosial, ALPERKLINAS Apresiasi KESDM, BUMN Energi dan PLN Fasilitasi 1.496 Peserta Mudik Gratis
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan penguatan KRL merupakan kebutuhan struktural dalam menghadapi lonjakan mobilitas lintas kota di Jabodetabekjur.
“Transportasi massal seperti KRL bukan sekadar alat angkut, tetapi penentu produktivitas kawasan. Ketika negara memperkuat KRL, sesungguhnya negara sedang menghemat waktu, energi, dan biaya sosial jutaan warga,” ujar Tohom, Senin (16/2/2026).
Ia menilai proyeksi peningkatan volume penumpang hingga ratusan juta per tahun harus dibaca sebagai sinyal bahwa pembangunan transportasi publik tidak bisa bersifat parsial.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: APBD DKI 2026 Perkuat Aglomerasi Jabodetabekjur dan Infrastruktur Publik
Menurutnya, langkah KAI mempercepat pengadaan rangkaian baru, termasuk produksi dalam negeri oleh PT INKA (Persero) serta dukungan manufaktur global seperti CRRC, mencerminkan pendekatan pembangunan yang visioner dan berorientasi jangka panjang.
Tohom juga mengapresiasi komitmen pemerintah pusat dalam mendukung pengembangan KRL, termasuk kesiapan pendanaan yang disampaikan Presiden Prabowo.
Ia menilai dukungan tersebut menunjukkan pemahaman bahwa transportasi publik adalah infrastruktur produktivitas kota, bukan sekadar layanan rutin.
“Ketika kapasitas ditambah dan kepadatan ditekan, kualitas hidup masyarakat naik. Inilah inti dari pembangunan aglomerasi yang berkeadilan,” katanya.
Lebih lanjut, Tohom menekankan pentingnya modernisasi prasarana pendukung seperti sistem kelistrikan, persinyalan, serta integrasi antarmoda di simpul-simpul transportasi utama.
Menurutnya, tanpa penguatan prasarana, pertumbuhan penumpang justru berisiko menurunkan kualitas layanan.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengingatkan bahwa pengembangan KRL harus terintegrasi dengan kebijakan tata ruang, perumahan, dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan penyangga.
Ia menilai KRL harus menjadi tulang punggung yang menghubungkan ekosistem aglomerasi Jabodetabekjur secara utuh.
“Transportasi publik yang kuat akan melahirkan kota yang lebih manusiawi, efisien, dan berdaya saing. Ini sejalan dengan arah kepemimpinan Prabowo-Gibran,” ujarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]