Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah revitalisasi Anjungan DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Program ini dinilai sebagai bagian penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus menjadi simpul strategis dalam pengembangan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur berbasis transformasi ruang publik dan teknologi digital di era modern.
Baca Juga:
Ganjil Genap Jakarta Masih Libur sampai Hari ini, Kendaraan Bebas Melintas
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan langkah strategis yang tidak hanya berdampak pada Jakarta, tetapi juga pada integrasi kawasan megapolitan Jabodetabekjur secara keseluruhan.
"Revitalisasi Anjungan DKI ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi transformasi cara kita memperkenalkan budaya kepada generasi masa depan dalam konteks kawasan aglomerasi. Pendekatan digital yang diusung sangat relevan dengan karakter masyarakat urban Jabodetabekjur saat ini," ujar Tohom.
Ia menilai, integrasi teknologi digital dalam ruang budaya akan menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan interaktif, sekaligus memperkuat konektivitas budaya antarwilayah di kawasan aglomerasi.
Baca Juga:
Pemprov Jakarta Bangun Tanggul 2,5 Meter Cegah Banjir Rob Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo-Gibran: Antisipasi Nyata Hadapi Perubahan Iklim
"Kalau kita ingin budaya tetap hidup di tengah kawasan megapolitan seperti Jabodetabekjur, maka harus dibawa masuk ke ekosistem yang akrab dengan generasi sekarang, yaitu teknologi. Ini langkah visioner yang harus didukung semua pihak lintas daerah," jelasnya.
Menurut Tohom, momentum revitalisasi ini juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat positioning Jakarta sebagai pusat budaya dalam jaringan kota-kota penyangga di Jabodetabekjur.
"Jakarta jangan sampai kehilangan identitasnya. Dengan sentuhan modern dan digital, budaya Betawi bisa menjadi jangkar budaya yang mengikat kawasan aglomerasi, sekaligus tampil lebih kuat dan kompetitif di panggung internasional," katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa revitalisasi Anjungan DKI harus diposisikan sebagai hub budaya dalam sistem aglomerasi Jabodetabekjur yang terintegrasi.
"Ke depan, kita tidak bisa melihat pembangunan secara parsial. TMII harus menjadi bagian dari ekosistem aglomerasi yang terkoneksi, baik dari sisi transportasi massal, konektivitas digital, pariwisata regional, maupun ekonomi kreatif lintas wilayah seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Cianjur," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan TMII yang strategis dapat dioptimalkan sebagai pusat distribusi aktivitas budaya dan pariwisata yang berdampak pada pemerataan ekonomi di kawasan penyangga.
"Jika dikemas dengan baik, Anjungan DKI bisa menarik arus wisata tidak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari seluruh wilayah Jabodetabekjur. Ini akan menciptakan multiplier effect bagi ekonomi regional," tegasnya.
Ia juga menyoroti skema pembiayaan kolaboratif antara APBD dan non-APBD sebagai model inovatif yang selaras dengan semangat pembangunan kawasan aglomerasi.
"Ini contoh konkret bagaimana pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan sektor swasta dalam kerangka pembangunan aglomerasi tanpa membebani fiskal secara berlebihan. Model seperti ini harus direplikasi di wilayah lain dalam kawasan Jabodetabekjur," tambahnya.
Lebih lanjut, Tohom optimis revitalisasi yang ditargetkan selesai dalam satu tahun akan menjadi momentum penting menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta sekaligus memperkuat fondasi integrasi kawasan aglomerasi.
"Jika ini selesai tepat waktu, Anjungan DKI tidak hanya menjadi ikon Jakarta, tetapi juga simbol kemajuan kawasan Jabodetabekjur—modern, terintegrasi, inklusif, dan tetap berakar pada budaya," tutupnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]