Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif proyeksi pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun 2026 yang ditargetkan berada di kisaran 4,8%-5,6%.
Menurut organisasi pendukung pemerintahan nasional tersebut, optimisme yang disampaikan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DKI Jakarta menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta tetap menjadi jangkar pertumbuhan nasional sekaligus episentrum penguatan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur.
Baca Juga:
KPK Tangkap Pejabat Pajak, Bea Cukai Ikut Disorot
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan proyeksi tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Jakarta semakin kokoh di tengah dinamika global.
“Target 4,8%-5,6% pada 2026 bukan sekadar angka, tetapi refleksi dari stabilitas inflasi, daya beli yang terjaga, serta kesinambungan pembangunan infrastruktur. Ini modal penting untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan Jabodetabekjur,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Ia menilai, terjaganya inflasi pada kisaran 2,5±1% serta kenaikan UMP 6,17% menjadi indikator daya tahan konsumsi rumah tangga.
Baca Juga:
Kopassus Cup 2026 Jadi Milik Parako 1 Pasgat, Nange: Bukti Profesionalitas
Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Imlek, Ramadan, dan Idulfitri yang berdekatan pada awal tahun juga diyakini akan mendongkrak perputaran ekonomi, khususnya sektor perdagangan, transportasi, dan jasa.
Tohom menambahkan, proyek strategis seperti MRT, LRT, dan pengembangan transit oriented development (TOD) bukan hanya berdampak pada Jakarta, tetapi menciptakan efek rambatan ekonomi hingga Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor.
“Konsep aglomerasi bukan hanya konektivitas fisik, melainkan integrasi pasar tenaga kerja, distribusi logistik, hingga ekosistem UMKM lintas wilayah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Jakarta kuartal IV/2025 yang mencapai 5,71% (yoy) dan lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional.
Menurutnya, pemulihan cepat pascakoreksi pada kuartal III/2025 menunjukkan pentingnya kepemimpinan daerah yang tegas dan responsif.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa stabilitas keamanan dan kepastian kebijakan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha.
“Ketika pemimpin daerah berani mengambil keputusan strategis dan menjaga rasa aman publik, maka dunia usaha bergerak lebih cepat. Inilah fondasi utama ekonomi aglomerasi—kepercayaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berpandangan ekonomi kreatif, sektor MICE, akomodasi, makanan dan minuman, serta jasa berbasis inovasi akan menjadi mesin pertumbuhan baru.
Dalam kerangka visi nasional Prabowo-Gibran, Jakarta diproyeksikan berperan sebagai pusat pertumbuhan modern yang menopang transformasi ekonomi berbasis nilai tambah dan digitalisasi di kawasan penyangga.
“Ke depan, kita harus memastikan bahwa pertumbuhan Jakarta tidak eksklusif, tetapi inklusif dan terdistribusi ke wilayah sekitar. Dengan demikian, aglomerasi Jabodetabekjur benar-benar menjadi superhub ekonomi nasional yang kompetitif di tingkat global,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]