Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran menilai pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang dilakukan PT MRT Jakarta merupakan langkah strategis dan visioner dalam mendorong Jakarta naik kelas sebagai kota dunia.
Konsep TOD yang terintegrasi dengan transportasi publik dinilai sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo–Gibran untuk membangun Aglomerasi Jabodetabekjur yang efisien, berdaya saing global, dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Tiang Monorel Mangkrak Dibongkar, MARTABAT Prabowo–Gibran: Penataan Jakarta Wajib Terpadu dalam Sistem Aglomerasi Jabodetabekjur
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, menyatakan bahwa pengembangan TOD MRT Jakarta, termasuk rencana kawasan multifungsi bawah tanah di Bundaran HI yang disebut setara Orchard Road Singapura, adalah bukti nyata transformasi paradigma pembangunan perkotaan.
“Ini merupakan lompatan peradaban kota. TOD MRT Jakarta menunjukkan bahwa Indonesia mampu membangun kawasan kelas dunia yang terintegrasi, manusiawi, dan produktif,” ujar Tohom, Rabu (14/1/2025).
Menurut Tohom, pembandingan dengan Orchard Road tidak semata-mata soal kemegahan fisik, melainkan tentang cara sebuah kawasan dirancang untuk menjadi simpul mobilitas, pusat aktivitas ekonomi, sekaligus ruang publik yang hidup.
Baca Juga:
Pendidikan Kelas Dunia Jadi Mesin Baru, MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai Aglomerasi Jabodetabekjur Kian Kompetitif
Ia menilai, jika dikawal konsisten, TOD di Blok M, Bundaran HI, hingga Lebak Bulus dapat menjadi ikon baru Jakarta dalam peta kota global.
“Orchard Road itu simbol integrasi transportasi, komersial, dan pedestrian. Jakarta kini sedang bergerak ke arah yang sama, bahkan dengan konteks lokal yang lebih inklusif,” katanya.
Lebih jauh, Tohom menyebutkan bahwa keberhasilan TOD MRT Jakarta tidak boleh berhenti di batas administratif DKI.
Dalam kerangka Aglomerasi Jabodetabekjur, TOD harus menjadi pemicu integrasi wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Cianjur.
“Aglomerasi adalah masa depan. TOD MRT Jakarta harus menjadi lokomotif yang menarik wilayah sekitar untuk terkoneksi, bukan terfragmentasi,” tegasnya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menambahkan bahwa pengembangan TOD perlu dibarengi tata kelola yang transparan, regulasi yang konsisten, serta keberpihakan pada kepentingan publik.
Menurutnya, penggunaan dana KLB secara terbuka sebagaimana disampaikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah contoh pendekatan pembiayaan kreatif yang patut diapresiasi dan direplikasi.
“Kota dunia bukan hanya soal bangunan megah, tetapi soal keadilan akses, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Di sinilah peran negara dan pemangku kepentingan harus hadir bersama,” ujarnya.
Ia juga menilai transformasi dari car-oriented development ke transit-oriented development akan berdampak langsung pada produktivitas nasional, pengurangan kemacetan, dan kualitas hidup masyarakat.
Dalam jangka panjang, TOD yang terintegrasi diyakini dapat melahirkan pusat-pusat ekonomi baru yang menyebar, tidak terpusat di satu titik saja.
“Inilah esensinya, yakni membangun Indonesia dari kota-kota yang terhubung, bukan terjebak dalam kemacetan dan ketimpangan ruang,” kata Tohom.
MARTABAT Prabowo–Gibran pun mendorong agar praktik baik TOD MRT Jakarta dijadikan model nasional, khususnya untuk kawasan metropolitan lain di Indonesia.
Dengan pendekatan aglomerasi yang tepat, Jakarta dan sekitarnya diyakini mampu berdiri sejajar dengan kota-kota besar dunia tanpa kehilangan identitas dan karakter lokal.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]