Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mentransformasi 153 pasar tradisional menjadi destinasi perkotaan bernilai ekonomi, sosial, dan kultural tinggi.
Organisasi relawan nasional ini menilai langkah tersebut strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi rakyat sekaligus mempercepat integrasi kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagai episentrum pertumbuhan nasional.
Baca Juga:
Keselamatan Transportasi Air Diperkuat, MARTABAT Prabowo-Gibran Soroti Peran Strategis Otorita Danau Toba
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa modernisasi pasar sebaiknya tidak dipandang sebagai proyek infrastruktur semata, melainkan sebagai agenda besar transformasi ekonomi kerakyatan.
“Transformasi 153 pasar di Jakarta adalah momentum emas. Ini bukan hanya soal renovasi fisik, tetapi membangun ekosistem ekonomi rakyat yang terintegrasi dengan visi besar pemerintahan Prabowo-Gibran dalam memperkuat kemandirian dan daya saing nasional,” ujar Tohom, Selasa (23/2/2026).
Ia menilai, nilai transaksi lebih dari Rp150 triliun per tahun dan keterlibatan sekitar 286 ribu UMKM menunjukkan bahwa pasar tradisional adalah jantung ekonomi Jakarta.
Baca Juga:
Jakarta Bidik 50 Kota Global Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran: Aglomerasi Jabodetabekjur Fondasi Daya Saing
Jika dikelola modern dan transparan, pasar bisa menjadi lokomotif pertumbuhan yang berdampak hingga ke wilayah penyangga.
“Jakarta tidak berdiri sendiri. Kita berbicara tentang aglomerasi Jabodetabekjur. Ketika pasar-pasar di Jakarta naik kelas, dampaknya akan terasa hingga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Rantai pasok, distribusi barang, hingga perputaran UMKM akan semakin terintegrasi,” katanya.
Tohom juga menyoroti keberhasilan uji coba digitalisasi di 20 pasar yang meningkatkan transaksi hingga 47 persen sebagai bukti kesiapan pedagang untuk beradaptasi dengan teknologi.