Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif kelanjutan pembangunan jalan sejajar rel rute Pasar Minggu menuju Tanjung Barat sebagai langkah strategis dalam mengurai kemacetan kronis sekaligus memperkuat konektivitas kawasan aglomerasi Jabodetabekjur.
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba mengatakan bahwa proyek ini bukan hanya solusi lokal, tetapi bagian dari desain besar penataan mobilitas perkotaan berbasis aglomerasi.
Baca Juga:
6,9 Ton Ikan Sapu-sapu Dibasmi, DPRD Singgung Dipakai Pedagang
“Kalau kita melihat ini secara makro, pembangunan jalan sejajar rel bukan hanya soal mengurai kemacetan di Pasar Minggu, tetapi bagian dari koreksi struktural terhadap pola transportasi di Jabodetabekjur,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, selama ini perencanaan infrastruktur kerap terfragmentasi antarwilayah, sehingga dampaknya tidak maksimal dalam mengatasi kepadatan lalu lintas yang terus meningkat.
“Konsep aglomerasi harus diwujudkan dalam bentuk konektivitas nyata, bukan hanya wacana administratif, dan proyek seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana integrasi itu dijalankan,” katanya.
Baca Juga:
Perang Lawan Ikan Sapu-sapu, Wali Kota Jakpus Turun Tangan Selamatkan Ekosistem Sungai
Menurut Tohom, percepatan pembebasan lahan menjadi faktor krusial agar proyek dapat segera masuk tahap konstruksi dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Ketika proses pengadaan tanah bisa diselesaikan secara tuntas dan transparan, maka kepercayaan publik meningkat dan proyek bisa berjalan tanpa hambatan berarti,” ucapnya.
Ia juga melihat bahwa pembangunan jalur alternatif yang terintegrasi dengan jembatan sejajar rel akan memberikan efek berlapis, mulai dari efisiensi waktu tempuh hingga penurunan beban jalan utama.
“Ini bukan hanya soal mengurangi kemacetan, tetapi juga meningkatkan produktivitas masyarakat karena waktu perjalanan menjadi lebih singkat dan terprediksi,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa keberhasilan proyek ini akan menjadi indikator penting dalam implementasi kebijakan aglomerasi yang lebih luas di Jabodetabekjur.
“Kalau proyek ini berhasil, maka bisa direplikasi di titik-titik lain yang mengalami bottleneck lalu lintas, sehingga kita memiliki sistem transportasi yang lebih adaptif dan terintegrasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, integrasi infrastruktur jalan dengan moda transportasi lain seperti kereta dan angkutan umum akan menjadi kunci dalam menciptakan sistem mobilitas yang berkelanjutan di kawasan metropolitan.
“Ke depan, pembangunan sebaiknya tidak lagi parsial, tetapi harus berbasis ekosistem transportasi yang saling terhubung dan efisien,” katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga menargetkan kelanjutan pembangunan jalan sejajar rel rute Pasar Minggu menuju Tanjung Barat setelah proses pembebasan lahan rampung.
Proyek ini bertujuan mengurai kemacetan di Jalan Raya Pasar Minggu sekaligus meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas publik di sekitarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]