Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa revitalisasi Anjungan DKI harus diposisikan sebagai hub budaya dalam sistem aglomerasi Jabodetabekjur yang terintegrasi.
"Ke depan, kita tidak bisa melihat pembangunan secara parsial. TMII harus menjadi bagian dari ekosistem aglomerasi yang terkoneksi, baik dari sisi transportasi massal, konektivitas digital, pariwisata regional, maupun ekonomi kreatif lintas wilayah seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Cianjur," ungkapnya.
Baca Juga:
Ganjil Genap Jakarta Masih Libur sampai Hari ini, Kendaraan Bebas Melintas
Ia menambahkan bahwa keberadaan TMII yang strategis dapat dioptimalkan sebagai pusat distribusi aktivitas budaya dan pariwisata yang berdampak pada pemerataan ekonomi di kawasan penyangga.
"Jika dikemas dengan baik, Anjungan DKI bisa menarik arus wisata tidak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari seluruh wilayah Jabodetabekjur. Ini akan menciptakan multiplier effect bagi ekonomi regional," tegasnya.
Ia juga menyoroti skema pembiayaan kolaboratif antara APBD dan non-APBD sebagai model inovatif yang selaras dengan semangat pembangunan kawasan aglomerasi.
Baca Juga:
Pemprov Jakarta Bangun Tanggul 2,5 Meter Cegah Banjir Rob Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo-Gibran: Antisipasi Nyata Hadapi Perubahan Iklim
"Ini contoh konkret bagaimana pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan sektor swasta dalam kerangka pembangunan aglomerasi tanpa membebani fiskal secara berlebihan. Model seperti ini harus direplikasi di wilayah lain dalam kawasan Jabodetabekjur," tambahnya.
Lebih lanjut, Tohom optimis revitalisasi yang ditargetkan selesai dalam satu tahun akan menjadi momentum penting menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta sekaligus memperkuat fondasi integrasi kawasan aglomerasi.
"Jika ini selesai tepat waktu, Anjungan DKI tidak hanya menjadi ikon Jakarta, tetapi juga simbol kemajuan kawasan Jabodetabekjur—modern, terintegrasi, inklusif, dan tetap berakar pada budaya," tutupnya.