Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif rencana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan kantor sekaligus ruang berkumpul bagi warga lanjut usia karena kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi model pelayanan sosial yang layak dikembangkan di kawasan aglomerasi Jabodetabekjur.
“Ruang bersama bagi lansia bukan hanya tempat berkumpul, tetapi dapat menjadi pusat aktivitas sosial, kesehatan, pendidikan, konsultasi, dan pemberdayaan yang membuat mereka tetap produktif serta merasa dihargai,” kata Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga:
Opera Batak Perlu Diselamatkan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Danau Toba Layak Punya Pusat Seni Dunia
Tohom menilai kebutuhan ruang bagi lansia semakin mendesak seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan tingginya mobilitas keluarga di kawasan metropolitan.
Menurutnya, kehidupan perkotaan yang cepat sering membuat lansia menghadapi keterbatasan ruang sosial, rasa kesepian, berkurangnya aktivitas, dan minimnya tempat yang dapat digunakan untuk menjalin interaksi secara rutin.
“Pemerintah daerah perlu melihat lansia sebagai warga yang masih memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan untuk memberi kontribusi kepada lingkungan, bukan hanya sebagai penerima bantuan sosial,” ujarnya.
Baca Juga:
KEK Batang Perkuat Kualitas Tenaga Kerja, MARTABAT Prabowo-Gibran: Talenta Lokal Jadi Fondasi Industrialisasi
Ia mengapresiasi langkah Pramono yang merespons langsung aspirasi para lansia saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ke-30 di Ancol, Jakarta Utara, Selasa (14/7/2026).
Tohom mengatakan keberanian kepala daerah mendengar kebutuhan kelompok lansia secara langsung merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan publik yang lebih manusiawi dan tepat sasaran.
Rencana awal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan lokasi pertemuan lansia diketahui belum dapat dilaksanakan karena tempat yang telah disiapkan dialihkan untuk mendukung program Sekolah Rakyat.
Tohom menilai dukungan Pemprov DKI terhadap Sekolah Rakyat tetap penting karena program tersebut menjadi bagian dari prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Namun, ia berharap penyediaan ruang bagi lansia tetap dipercepat melalui pemanfaatan aset pemerintah daerah, gedung serbaguna, balai warga, fasilitas sosial, atau bangunan yang belum digunakan secara optimal.
“Sekolah Rakyat dan ruang lansia sama-sama memiliki nilai sosial yang kuat sehingga keduanya tidak perlu dipertentangkan apabila pemerintah mampu memetakan aset dan mengatur prioritas secara kreatif,” katanya.
Menurut Tohom, ruang pertemuan lansia sebaiknya tidak hanya berfungsi sebagai kantor organisasi, tetapi juga menyediakan kegiatan pemeriksaan kesehatan, olahraga ringan, literasi digital, pelatihan keterampilan, konsultasi hukum, dan pendampingan psikologis.
Ia juga mengusulkan adanya program yang mempertemukan lansia dengan generasi muda agar pengalaman hidup mereka dapat diwariskan melalui kegiatan pendidikan, kebudayaan, kewirausahaan, dan penguatan nilai kebangsaan.
“Banyak lansia memiliki pengalaman panjang sebagai guru, pekerja, aparatur, pelaku usaha, tenaga profesional, maupun tokoh masyarakat yang masih dapat memberikan manfaat besar bagi generasi berikutnya,” ujar Tohom.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa kebutuhan pelayanan lansia harus dipandang dalam kerangka Jabodetabekjur karena aktivitas masyarakat tidak berhenti pada batas administratif Jakarta.
Menurutnya, banyak lansia yang tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cianjur, dan kawasan sekitar tetap memiliki hubungan keluarga, layanan kesehatan, kegiatan sosial, serta mobilitas harian dengan Jakarta.
“Konsep ruang lansia dapat dikembangkan menjadi jaringan pelayanan lintas daerah agar warga lanjut usia memperoleh akses yang sama meskipun tinggal di wilayah aglomerasi yang berbeda,” katanya.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkoordinasi dengan pemerintah daerah di kawasan Jabodetabekjur untuk menyusun standar minimum pelayanan lansia yang mencakup fasilitas sosial, transportasi, kesehatan, kegiatan produktif, dan ruang interaksi.
Tohom menilai integrasi tersebut dapat dimulai melalui kerja sama penggunaan fasilitas, pertukaran data penerima layanan, penyelarasan program, serta penyediaan akses transportasi yang ramah lansia.
“Lansia di kawasan aglomerasi membutuhkan sistem pelayanan yang terhubung karena kehidupan keluarga dan aktivitas mereka sudah melintasi batas provinsi maupun kabupaten dan kota,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi program Kartu Lansia Jakarta, layanan transportasi umum gratis, fasilitas kesehatan, serta Sekolah Lansia yang telah dijalankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Namun, Tohom berharap program tersebut terus dievaluasi agar penerima manfaat tidak hanya memperoleh bantuan finansial, tetapi juga mendapatkan ruang untuk beraktivitas, membangun jejaring, dan menjaga kesehatan mental.
Menurutnya, kesejahteraan lansia harus diukur dari kualitas hidup, tingkat kemandirian, kesehatan, keterlibatan sosial, rasa aman, dan dukungan keluarga.
“Bantuan sosial tetap penting, tetapi kebahagiaan lansia juga sangat ditentukan oleh kesempatan untuk berinteraksi, berkarya, didengar, dan tetap memiliki peran dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
Tohom mendorong dunia usaha, BUMN, BUMD, komunitas, organisasi sosial, dan perguruan tinggi ikut mendukung pembangunan ruang bersama lansia melalui program tanggung jawab sosial serta kegiatan pendampingan berkelanjutan.
Ia menilai keterlibatan berbagai pihak dapat membantu pemerintah menyediakan fasilitas yang lebih lengkap tanpa membebankan seluruh pembiayaan kepada anggaran daerah.
“Kolaborasi dapat menghadirkan ruang lansia yang nyaman, aman, mudah dijangkau, ramah disabilitas, dan memiliki kegiatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya,” ujarnya.
Tohom berharap rencana tersebut tidak berhenti pada penyediaan satu gedung, melainkan berkembang menjadi kebijakan jangka panjang yang menjadikan Jakarta dan wilayah aglomerasi sebagai kawasan ramah lansia.
Ia mengatakan keberhasilan pembangunan kota tidak hanya terlihat dari gedung, jalan, dan transportasi, tetapi juga dari cara pemerintah memperlakukan warga lanjut usia dengan hormat dan bermartabat.
“Ketika lansia merasa produktif, bahagia, terlindungi, dan tetap mendapatkan kasih sayang, maka kota tersebut telah menunjukkan wajah pembangunan yang sesungguhnya,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]