Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif meningkatnya permintaan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek pasca pandemi Covid-19.
Lonjakan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat kebangkitan sektor riil dan kepercayaan investor terhadap stabilitas serta arah kebijakan ekonomi nasional.
Baca Juga:
Investasi Perumahan dan Kawasan Industri Diproyeksi Melesat hingga 2026
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan bahwa tren pertumbuhan kawasan industri yang tetap kuat sejak pandemi merupakan indikator fundamental ekonomi yang semakin kokoh.
“Kenaikan permintaan lahan industri sebesar 2,3 persen secara year on year menunjukkan bahwa sektor manufaktur dan kendaraan listrik menjadi tulang punggung transformasi industri nasional. Ini adalah sinyal optimisme jangka panjang,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Data dari Knight Frank Indonesia mencatat total pasokan kawasan industri di Greater Jakarta mendekati 16.000 hektare, dengan tingkat penjualan lahan mencapai sekitar 64 persen dari total pasokan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Tata Kelola Udara Modern Lewat Deteksi Emisi Industri Terintegrasi di Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur
Kawasan yang diamati meliputi koridor barat seperti Cilegon, Serang, dan Tangerang hingga koridor timur Bekasi, Cikarang, Karawang, dan sebagian Purwakarta.
Tohom menilai, penyebaran pertumbuhan kawasan industri yang tidak lagi terpusat di satu wilayah menjadi perkembangan strategis.
“Dulu Bekasi dan Karawang mendominasi, sekarang Cilegon dan Serang mulai menonjol. Artinya terjadi pemerataan daya tarik investasi. Ini penting untuk menciptakan pusat-pusat ekonomi baru dan mengurangi ketimpangan wilayah,” jelasnya.
Ia menambahkan, sektor otomotif khususnya kendaraan listrik (EV) menjadi katalis utama serapan lahan sepanjang 2025. Menurutnya, momentum ini harus diikuti dengan penguatan ekosistem industri hulu hingga hilir.
“Kita tidak boleh hanya menjadi basis produksi, tetapi juga pusat inovasi dan pengembangan teknologi. Pemerintah perlu memastikan transfer teknologi dan peningkatan kualitas SDM berjalan paralel,” tegasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch menekankan bahwa pertumbuhan kawasan industri harus diiringi perencanaan tata ruang yang terintegrasi dengan kawasan permukiman, infrastruktur, dan transportasi.
“Pertumbuhan industri tidak boleh berdiri sendiri. Konsep aglomerasi modern menuntut konektivitas, efisiensi logistik, dan keberlanjutan lingkungan agar manfaat ekonominya maksimal,” katanya.
Menurutnya, capaian take-up rate sebesar 64 persen menunjukkan bahwa Greater Jakarta masih menjadi magnet utama investasi industri nasional. Namun ia mengingatkan pentingnya kepastian regulasi dan percepatan perizinan agar momentum ini tidak melambat.
“Stabilitas kebijakan dan kepastian hukum menjadi faktor kunci. Investor melihat konsistensi sebagai jaminan keberlanjutan,” tuturnya.
MARTABAT Prabowo-Gibran, lanjut Tohom, akan terus mendorong kebijakan yang memperkuat industrialisasi berbasis nilai tambah.
Ia optimis, dengan strategi yang tepat, kawasan industri di Jabodetabek dan sekitarnya dapat menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]