Tito Karnavian mengawali sambutan mengajak bahwa kita semua bersyukur kepada Tuhan kalau situasi pandemi sudah terkendalikan dengan baik, meski di beberapa negeri seperti Korea Utara, Amerika dan China masih dilanda Covid-19.
“Saya tersanjung karena diundang sahabat saya, Bang Ara bisa hadir meresmikan gereja ini. Saya awalnya tanya kenapa harus saya, nggak ada yang lain yang lebih tepat, lalu Pak Ara bilang, dulu Pak Soeparjo Rustam (Mendagri periode 1983–1988) yang meresmikan GKI Bintaro. Oh, baru saya paham, berarti saya cocok karena saya mendagri sekarang, tentu karena Bang Ara sahabat dekat saya,” ujarnya.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Selanjutnya mantan Kapolri ini melanjutkan bercerita saat bertugas di Papua, yang mengandalikan masyarakat Papua itu nomor satu gereja, kemudian adat baru pemerintah.
“Saya sudah terbiasa berdialog di gereja sewaktu menjadi Kapolda di Papua,” terangnya.
Oleh karena itu, menurut Tito merenovasi gereja atau membangun gereja adalah sebuah kehormatan, karena dalam ajaran kami (muslim), amal dan pahala pasti akan berkelanjutan.
Baca Juga:
Kemlu RI Respon Kebijakan Tarif Baru Trump, Dampak Signifikan Bagi Ekspor
“Saya yakin di dalam kitab Kristen juga banyak ayat menjelaskan pentingnya membangun dan merenovasi gereja,” kata Tito, yang juga menyampaikan bahwa dirinya akan menyumbang untuk GKI Bintaro, agar dapat pahala juga.
Namun ada penelitian menarik, menjelaskan hubungan variabel relegius dengan kejahatan, harusnya kan kejahatan itu lebih rendah di negara yang relegius, ternyata tidak demikian, dan Indonesia masuk top ten 10 besar negara religius.
Juga seperti Gana, Italia, Brasil dan Bangladesh, tapi justru di sana penjaranya penuh. Sebaliknya negara sekuler seperti Belanda, Finlandia dan negara lainnya justru penjaranya kosong. Seperti saya kutip semalam dalam Yakobus 2:12, intinya perbuatan tanpa iman sia-sia.