“Ketika waktu tempuh masyarakat bisa dipangkas dan konektivitas semakin baik, maka biaya sosial akibat kemacetan juga akan turun dan ekonomi kota menjadi lebih sehat,” ujar Tohom.
Menurutnya, pembangunan LRT tidak hanya bicara soal infrastruktur transportasi, tetapi juga menyangkut arah pembangunan kota modern yang terintegrasi dengan kawasan penyangga di sekitar Jakarta.
Baca Juga:
Beli 50 GB dan Sisa 24 GB Tiba-tiba Hilang, YLKI Sebut Konsumen Banyak Dirugikan
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan integrasi jaringan rel antarkawasan akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan konsep aglomerasi Jabodetabek yang lebih tertata dan efisien.
Ia menilai konektivitas transportasi yang saling terhubung antara Jakarta, kawasan utara, hingga wilayah penyangga seperti Tangerang dan Bekasi akan menciptakan distribusi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
“Kalau seluruh loop transportasi massal ini terhubung, maka Jakarta dan kawasan aglomerasinya akan bergerak menjadi metropolitan modern dengan mobilitas yang jauh lebih efisien,” katanya.
Baca Juga:
Motor Inventaris TNI Dicuri di Simalungun, Satu Pelaku Dilumpuhkan
Tohom juga memandang rencana pengembangan jalur lanjutan menuju PIK 2 dan Bandara Soekarno-Hatta akan menjadi katalis baru bagi pertumbuhan ekonomi kawasan utara dan barat Jakarta.
Menurutnya, keberadaan jalur transportasi massal menuju bandara akan memperkuat daya saing Jakarta sebagai pusat bisnis dan investasi nasional.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan memperpanjang proyek LRT Jakarta dari Manggarai hingga Dukuh Atas setelah mempertimbangkan masukan berbagai pihak dan kemampuan fiskal Pemprov DKI Jakarta.