Ia menyebut, normalisasi sungai, pompanisasi, hingga pembangunan polder memang penting sebagai mitigasi operasional, namun tanpa perubahan elevasi dan desain jalan, risiko banjir akan tetap berulang.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi pembangunan empat rumah pompa di sepanjang Jalan Daan Mogot dengan total kapasitas 11,5 meter kubik per detik, serta pembangunan Saluran Gendong di sisi utara dan selatan.
Baca Juga:
Jakarta Bidik 50 Kota Global Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran: Aglomerasi Jabodetabekjur Fondasi Daya Saing
Namun menurutnya, langkah tersebut harus dilihat sebagai bagian dari sistem terpadu.
“Flyover, pompa, saluran gendong, hingga pengaturan tata guna lahan harus terintegrasi. Kita tidak bisa lagi bekerja dalam silo sektoral. Dalam visi MARTABAT Prabowo-Gibran, aglomerasi Jabodetabekjur harus menjadi model metropolitan modern yang resilien terhadap perubahan iklim,” tegasnya.
Tohom juga mengingatkan bahwa curah hujan di atas 100 milimeter yang hampir pasti menyebabkan luapan air menunjukkan batas kemampuan sistem drainase yang ada.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: F1 Powerboat Jadi Etalase Global Pariwisata Danau Toba
Karena itu, ia mendorong adanya integrasi data hidrologi, tata ruang, dan transportasi dalam satu sistem perencanaan berbasis teknologi.
“Kita harus masuk ke era smart metropolitan governance. Bukan hanya membangun fisik, tetapi membangun sistem prediktif berbasis data. Dengan begitu, setiap kebijakan infrastruktur memiliki proyeksi jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap krisis,” ucapnya.
Menurut Tohom, kawasan Daan Mogot dapat dijadikan proyek percontohan integrasi penanganan banjir dan transportasi dalam kerangka aglomerasi Jabodetabekjur.