WahanaNews Jakarta.co - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi digital masyarakat melalui webinar bertajuk Jakarta SOLID (Sadar Olah Literasi Digital) yang digelar di Ruang Pola Blok A lantai 2 Gedung Walikota Jakarta Timur, Rabu (6/5).
Mengusung tema “Hoaks, Disinformasi, dan Peran Publik di Era AI”, kegiatan ini menjadi respons atas semakin maraknya penyebaran informasi palsu di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Baca Juga:
Ribuan Perantau Kebumen Padati TMII, Festival Walet Emas 2026 Penuh Nuansa Kampung Halaman
Webinar yang disiarkan secara langsung melalui Zoom dan kanal YouTube Jakarta Lawan Hoaks tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, didapuk sebagai keynote speaker.
Dalam arahannya, Pramono menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam memilah serta memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya di ruang digital.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini terbuka untuk umum, sekaligus memberikan e-certificate dan doorprize sebagai bentuk apresiasi kepada peserta.
Peran masyarakat jadi kunci
Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, dalam sambutannya menyoroti perubahan besar yang dibawa era digital, di mana masyarakat dari berbagai kalangan usia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Baca Juga:
Festival Walet Emas 2026 Jadi Ajang Silaturahmi Akbar Warga Kebumen di Jakarta Timur
“Dulu tidak terbayangkan kita akan hidup di era digital seperti sekarang. Informasi begitu terbuka, lintas negara, dan mudah diakses. Namun di balik itu, kita dituntut lebih cerdas dan bijak dalam mengelola informasi,” ujar Munjirin.
Ia mengingatkan bahwa penyebaran hoaks dapat berdampak nyata terhadap kehidupan sosial, bahkan memengaruhi perilaku individu. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati sebelum membagikan informasi.
“Setiap apa yang kita ketik dan bagikan harus dipikirkan matang. Bukan hanya berdampak di dunia, tapi juga menjadi tanggung jawab moral,” tegasnya.
Selain membahas hoaks, Munjirin juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan teknologi, termasuk saat memberikan komentar, membuat unggahan, maupun menyebarkan informasi.
Ia mencontohkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kejujuran dalam pelaporan data di lapangan. Menurutnya, manipulasi informasi melalui sistem digital dapat merusak kepercayaan publik.
“Teknologi itu memudahkan, tapi jangan disalahgunakan. Harus tetap berdasarkan fakta dan kondisi nyata,” kata dia.
Sementara itu, perwakilan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta, Syali. menyampaikan bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI, membawa peluang sekaligus tantangan, termasuk meningkatnya hoaks dan disinformasi.
Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat ketahanan informasi melalui berbagai inovasi, seperti pengembangan portal Satu Data Jakarta, aplikasi JAKI, serta layanan Jakarta Lawan Hoaks sebagai pusat verifikasi informasi.
“Laporan warga bukan sekadar data administratif, tetapi amanah publik yang harus divalidasi secara nyata. Karena itu, kami memperkuat sistem verifikasi berbasis AI dan mekanisme check and balance,” ujarnya.
Selain itu, perluasan akses internet melalui JakWiFi dan pemasangan ribuan CCTV juga menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem digital yang aman dan transparan.
Program Jakarta Lawan Hoaks tidak hanya berperan sebagai pemeriksa fakta, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik. Inisiatif ini bahkan telah mendapat pengakuan internasional melalui nominasi ajang World Summit on the Information Society (WSIS) yang diselenggarakan oleh PBB.
Melalui kegiatan Jakarta SOLID, masyarakat diajak memahami cara sederhana memverifikasi informasi sekaligus melindungi keluarga dari dampak negatif dunia digital.
“Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial,” kata perwakilan Kominfotik, Syali.
Sebagai penutup, Wali Kota Jakarta Timur menyerahkan sertifikat penghargaan kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.
Webinar ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas dalam menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan beretika di tengah derasnya arus informasi di era kecerdasan buatan.
[Redaktur: JP Sianturi]