KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran merespons langkah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang kembali melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
MARTABAT menilai kebijakan tersebut sebagai langkah adaptif yang perlu diapresiasi, namun mengingatkan bahwa penanganan bencana hidrometeorologi di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari pendekatan aglomerasi Jabodetabekjur yang lebih terpadu dan berkelanjutan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran: Kolaborasi Pusat–Daerah Percepat TOD Tangerang dalam Ekosistem Jabodetabek
Ketua Umum MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, menilai OMC merupakan instrumen penting dalam mitigasi jangka pendek, tetapi tidak boleh berdiri sendiri.
“Operasi modifikasi cuaca adalah respons teknokratis yang relevan dalam kondisi darurat. Namun, dalam konteks Jakarta dan sekitarnya, ini harus dilihat sebagai bagian dari sistem penanganan risiko aglomerasi Jabodetabekjur secara menyeluruh,” ujar Tohom, Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, karakter wilayah aglomerasi yang saling terhubung secara ekologis dan hidrologis menuntut koordinasi lintas daerah yang jauh lebih kuat.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: RDF, Biodigester, dan Insinerator Harus Jadi Jalan Transisi, Bukan Solusi Setengah Hati
“Hujan tidak mengenal batas administrasi. Apa yang terjadi di Bogor, Depok, atau Bekasi akan berdampak langsung ke Jakarta. Karena itu, kebijakan mitigasi cuaca ekstrem harus dirancang dalam satu kerangka aglomerasi,” katanya.
Tohom menilai sinergi BPBD DKI Jakarta dengan BNPB, BMKG, TNI AU, dan unsur terkait merupakan contoh praktik kolaboratif yang perlu diperluas ke level regional Jabodetabekjur.
“Ke depan, pendekatan ini tidak cukup hanya reaktif. Harus ada perencanaan bersama yang berbasis data iklim, tata ruang, dan daya dukung lingkungan kawasan aglomerasi,” ujarnya.