Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran merespons positif langkah PT PLN (Persero) melalui PLN UID Jakarta Raya yang menambah daya listrik Jakarta Recycle Center (JRC) TPS Pesanggrahan dari 33.000 VA menjadi 555.000 VA.
Kebijakan ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam memperkuat fondasi pengelolaan lingkungan berbasis teknologi, sekaligus menjadi bagian penting dari penguatan daya saing aglomerasi Jabodetabekjur menuju kawasan metropolitan berkelas global.
Baca Juga:
Gardu Listrik Hampir Terendam Banjir, Kapolsek Berbak Polres Tanjabtim Respon Cepat Laporan Warga
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa keandalan energi listrik merupakan prasyarat utama bagi transformasi kota modern.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan teknis semata, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan peradaban perkotaan yang berkelanjutan.
“Penambahan daya listrik di Jakarta Recycle Center menunjukkan bahwa negara hadir melalui BUMN energi untuk menopang kebijakan lingkungan hidup yang berbasis teknologi. Ini bukan sekadar soal listrik, tetapi tentang arah pembangunan kota Jakarta sebagai lokomotif aglomerasi Jabodetabekjur,” ujar Tohom, Sabtu (10/1/2026).
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai Proyek Tata Air Fatmawati Sejalan dengan Penataan Aglomerasi Jabodetabekjur
Tohom menilai, dukungan kelistrikan yang andal memungkinkan fasilitas pengolahan sampah beroperasi secara optimal, efisien, dan ramah lingkungan.
Hal ini sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo–Gibran yang menempatkan keberlanjutan lingkungan, efisiensi energi, dan tata kelola kota modern sebagai pilar utama pembangunan nasional.
“Jika pengolahan sampah berjalan efektif, maka beban TPA berkurang, kualitas lingkungan meningkat, dan biaya sosial akibat pencemaran bisa ditekan. Inilah bentuk nyata dari pembangunan yang berpihak pada masa depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tohom yang juga menjabat sebagai Ketua Aglomerasi Watch mengatakan bahwa keberhasilan Jakarta dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis energi andal akan menjadi role model bagi wilayah penyangga di sekitarnya.
Menurutnya, aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan standar kebijakan yang terintegrasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
“Aglomerasi Jabodetabekjur harus dibangun dengan pendekatan sistemik. Ketika Jakarta memperkuat infrastruktur lingkungan dan energinya, maka kota-kota penyangga akan terdorong mengikuti standar yang sama. Di sinilah daya saing kawasan metropolitan dibentuk,” kata Tohom.
Ia juga menekankan bahwa sinergi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kunci terciptanya kota yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
MARTABAT Prabowo–Gibran, lanjutnya, akan terus mendorong kebijakan publik yang selaras dengan agenda transisi energi, ekonomi hijau, dan penguatan daya saing wilayah aglomerasi.
“Jakarta yang bersih, efisien, dan ditopang energi andal adalah wajah masa depan Indonesia. Dari sinilah aglomerasi Jabodetabekjur dapat naik kelas sebagai pusat peradaban dan ekonomi kawasan,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]