Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif tren pertumbuhan sektor properti yang terus menunjukkan penguatan, khususnya di kawasan aglomerasi Jabodetabekjur.
Ekspansi besar pengembang nasional di wilayah Serpong dan sekitarnya dinilai mempertegas bahwa ekosistem perkotaan Indonesia kian matang dan siap bertransformasi sebagai kawasan metropolitan berdaya saing global.
Baca Juga:
Katy Perry Menang Gugatan Rp30 Miliar ke Kakek Disabilitas 85 Tahun, Begini Duduk Perkaranya
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai meningkatnya investasi properti merupakan indikator kepercayaan jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi nasional dan arah pembangunan pemerintahan Prabowo–Gibran.
Menurutnya, geliat properti mencerminkan keyakinan pasar bahwa Indonesia memasuki fase konsolidasi kota-kota besar menuju standar global.
“Pertumbuhan properti yang konsisten menunjukkan bahwa aglomerasi Jabodetabekjur tidak lagi bertumpu pada Jakarta semata. Kawasan penyangga seperti Serpong berkembang menjadi simpul ekonomi baru dengan fungsi hunian, bisnis, pendidikan, dan gaya hidup yang terintegrasi,” ujar Tohom, Selasa (6/1/2025).
Baca Juga:
Akibat Jebakan Perizinan Investasi Properti Rp55,5 Triliun Mangkrak, Menteri Perumahan Siap Bantu
Ia menyebutkan bahwa pengembangan kawasan berskala besar, seperti yang dilakukan di Serpong, menjadi bukti konkret terbangunnya konsep kota lengkap (complete city).
Konsep ini, lanjut Tohom, sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo–Gibran yang mendorong pemerataan pertumbuhan, pengurangan beban pusat kota, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat urban.
“Jika dikelola dengan tata ruang yang disiplin dan infrastruktur yang berkelanjutan, kawasan aglomerasi ini akan menjadi wajah baru Indonesia sebagai negara dengan kota-kota modern yang manusiawi dan produktif,” kata dia.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa ekspansi properti harus dibaca sebagai momentum strategis untuk memperkuat sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
Menurutnya, pertumbuhan kawasan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus diikat dalam satu desain besar aglomerasi yang memperhatikan transportasi massal, lingkungan, air bersih, energi, dan hunian terjangkau.
“Kami melihat tantangan ke depan bukan pada minat investor, tetapi pada konsistensi tata kelola. Kita harus memastikan pertumbuhan properti tidak melahirkan kota eksklusif yang terfragmentasi, melainkan kota inklusif yang memberi manfaat ekonomi dan sosial secara luas,” ungkapnya.
Ia menambahkan, di era Prabowo–Gibran, pembangunan kawasan metropolitan harus menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing nasional, menarik investasi global, sekaligus menjaga martabat masyarakat urban.
Dengan demikian, pertumbuhan properti tidak hanya memperkuat neraca ekonomi, tetapi juga membentuk peradaban kota yang berkelanjutan.
“Ketika aglomerasi Jabodetabekjur semakin lengkap, Indonesia tidak hanya membangun gedung dan kawasan, tetapi sedang membangun masa depan kota globalnya sendiri,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]