Semula, Tahun Yubelium dilaksanakan setiap 100 tahun, tapi dalam perjalanannya karena berbagai pertimbangan, pada tahun 1475 oleh Paus Sixtus VI diubah menjadi 25 tahun sekali hingga saat ini.
Jerusalem Baru
Baca Juga:
Menteri Agama Ingatkan Deklarasi Istiqlal - Vatikan dalam Seminar Moderasi Beragama
Upacara penutupan Porta Santa, hari Selasa kemarin merupakan kelanjutan dari praktik yang ditetapkan sejak tahun 1975, dan disederhanakan lebih lanjut oleh Paus Santo Yohanes Paulus II selama Yubelium Agung Tahun 2000.
Upacara penutupan Porta Santa secara singkat. Saat antifon, nyanyian pendek “O clavis David” (O Kunci Daud) dilantunkan, Paus Leo XIV berjalan mendekati Porta Santa, Pintu Suci. Paus melangkah ke ambang pintu, berlutut, dan, setelah beberapa saat berdoa dalam diam, lalu menutup kedua daun pintu perunggu yang besar itu, mulai dari daun pintu kanan.
Ini menandakan masa Yubelium Pengharapan telah berakhir. Saat menutup Porta Santa, Paus Leo XIV, seperti para pendahulunya mendaraskan doa, “Pintu Suci ini tertutup, tetapi pintu rahmat-Mu tidak tertutup.”
Baca Juga:
Paus Leo XIV Ajak Media Menjadi Penabur Damai dan Penebar Kasih
Lalu, Paus memohon agar “harta karun” rahmat ilahi tetap terbuka, “sehingga, pada akhir ziarah duniawi kita, kita dapat mengetuk dengan penuh keyakinan di pintu rumah-Mu dan menikmati buah dari pohon kehidupan.”
Penutupan Porta Santa Basilika St. Petrus, Vatikan, kata Paus Leo XIV, menandai berakhirnya berbulan-bulan di mana “arus tak terhitung banyaknya pria dan wanita, peziarah harapan,” melintasi ambang pintu Basilika, melakukan perjalanan menuju “Yerusalem baru, kota yang pintunya selalu terbuka.”
Dengan demikian Tahun Jubelium Pengharapan yang bermotto Peregrinantes in Spem atau Pilgrims of Hope atau "Penziarah Pengharapan", berakhir.