JAKARTAWAHANANEWS.CO, JAKARTA- Kemarin, Selasa, 17 Maret 2026, saya diundang dalam acara Ezy TV Podcast Series di Duren Sawit, Jakarta Timur. Acara tersebut diselenggarakan oleh Komwaja dan PAM Jaya. Para pembicara yang hadir antara lain Direktur Strategis & Bisnis PAM Jaya, Anugrah Esa, saya sendiri, Sugiyanto (SGY)–Emik, serta Tobias Pattiasina, dengan dipandu oleh host podcast, Fauzan Lutsah. Adapun tema yang diangkat adalah “Water Purifier PAM Jaya, Inovasi Air Masa Depan: Dari Udara hingga Tanpa Plastik.”
Dalam acara podcast tersebut, Direktur Strategis & Bisnis PAM Jaya, Anugrah Esa, memaparkan secara gamblang dan rinci mengenai water purifier serta berbagai program PAM Jaya lainnya, termasuk capaian dan target pelayanan air bersih 100 persen. Seluruh pemaparan yang disampaikan sangat menarik dan penting.
Baca Juga:
Green Mindset Arief Nasrudin: PAM JAYA Andalkan Jatiluhur dan 13 Sungai, Tanpa Eksploitasi Air Tanah
Selanjutnya, tokoh masyarakat Tobias Pattiasina turut memberikan dukungan terhadap program PAM Jaya, sekaligus menitikberatkan pada pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, termasuk pengaturan pemanfaatan air bawah tanah. Sementara itu, saya melengkapi dengan sejumlah pandangan tambahan yang mendukung pembahasan tersebut.
Adapun tulisan ini merupakan pengembangan dari pemaparan yang saya sampaikan dalam podcast tersebut, dengan tetap menggunakan judul sebagaimana disebutkan di atas.
Baiklah, kita mulai dari hal yang paling mendasar. Air minum yang aman merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditawar, karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kualitas hidup, dan produktivitas masyarakat. Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, kebutuhan akan air minum yang aman terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, serta keterbatasan sumber air baku yang berkualitas.
Baca Juga:
Kelola Air Menuju Kota Global Dasyat: Langkah Gubernur Pramono Transformasi PAM Jaya dan IPO Bukan Liberalisasi
Dalam konteks ini, pengembangan sistem penyediaan air minum yang andal perlu didukung oleh inovasi teknologi. Dalam hal ini, PAM Jaya telah meluncurkan berbagai gagasan, salah satunya melalui penggunaan water purifier sebagai solusi praktis untuk memastikan ketersediaan air minum yang aman kapan saja.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menegaskan bahwa air minum yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyakit serius seperti diare, kolera, dan tifus. Di Indonesia, standar kualitas air minum telah diatur secara tegas dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.
Ketentuan tersebut menggantikan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Selain itu, pengaturan ini juga diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum yang mengharuskan air memenuhi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi. Regulasi ini menjadi landasan bahwa setiap air yang dikonsumsi masyarakat harus melalui proses pengolahan yang terjamin keamanannya. Adapun air produksi PAM Jaya telah memenuhi ketentuan tersebut dan dinyatakan layak untuk diminum.
Dalam praktiknya, sebagian masyarakat masih mengandalkan air tanah, air permukaan, maupun air hujan yang memerlukan pengolahan lanjutan sebelum layak dikonsumsi. Teknologi water purifier hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui sistem penyaringan berlapis, seperti karbon aktif, ultrafiltrasi, hingga reverse osmosis, yang mampu menghilangkan bakteri, virus, partikel berbahaya, serta kandungan logam berat. Dengan teknologi ini, masyarakat dapat memperoleh air minum yang higienis langsung dari sumber air yang tersedia di rumah.
Peran water purifier menjadi semakin strategis dalam mendukung transformasi layanan air minum perkotaan yang tengah dikembangkan oleh PAM Jaya. Upaya menghadirkan air minum langsung dari keran merupakan langkah maju menuju sistem air modern yang efisien dan sehat. Namun, tantangan utama tidak hanya terletak pada instalasi pengolahan air, melainkan juga pada jaringan distribusi yang sebagian masih menggunakan pipa lama non–food grade yang berpotensi menurunkan kualitas air.
Dalam masa transisi ini, penggunaan water purifier di tingkat rumah tangga menjadi solusi rasional untuk memastikan air tetap aman dikonsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa PAM Jaya tetap berkomitmen memberikan pelayanan air minum yang siap dikonsumsi kapan saja, sekaligus menghemat biaya dan menjaga lingkungan dari penggunaan botol plastik sekali pakai.
Sekali lagi saya tegaskan bahwa transformasi sistem air minum ini juga harus dilihat dalam perspektif lingkungan. Ketergantungan masyarakat terhadap air minum dalam kemasan telah berkontribusi besar terhadap timbulan sampah plastik. Indonesia bahkan kerap disebut sebagai megara penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setalah china.
Sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan domestik, tetapi juga mencemari laut dan berpindah lintas wilayah, yang menunjukkan masih lemahnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Bahkan, diketahui bahwa sampah dari Indonesia turut mencemari wilayah di luar negeri. Beberapa laporan pemberitaan menyebutkan bahwa sampah asal Indonesia ditemukan hingga di Afrika Selatan dan Madagaskar.
Dalam kerangka hukum nasional, pengurangan sampah plastik telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. Regulasi tersebut menekankan pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Oleh karena itu, penggunaan water purifier yang dapat mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan menjadi bagian dari solusi konkret yang sejalan dengan kebijakan tersebut. Dalam konteks ini, sudah selayaknya setiap orang ikut serta menjaga kelestarian lingkungan dengan mendukung serta beralih menggunakan water purifier.
Selain itu, inovasi kemasan ramah lingkungan berbasis kertas menjadi alternatif penting dalam mendukung transisi menuju sistem konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kemasan berbahan kertas memiliki keunggulan karena berasal dari sumber terbarukan, lebih mudah terurai, dan dapat didaur ulang. Meskipun masih menghadapi tantangan teknologi dan biaya produksi, pengembangan kemasan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang kini mulai diadopsi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Ke depan, inovasi penyediaan air minum tidak hanya bergantung pada sumber konvensional seperti air tanah, air permukaan, dan air hujan. Teknologi desalinasi memungkinkan pemanfaatan air laut menjadi air tawar, sementara pengolahan air limbah melalui teknologi lanjutan seperti membrane bioreactor, ultrafiltrasi, dan reverse osmosis mampu mendaur ulang air hingga tingkat aman sebagai sumber air baku.
Harus diakui bahwa ketiga inovasi sumber air baku tersebut belum sebanding dari segi kapasitas jika dibandingkan dengan air permukaan maupun air tanah. Saat ini, kebutuhan air baku Jakarta sekitar 92 persen masih bergantung pada Waduk Jatiluhur, sementara sisanya sekitar 8 persen berasal dari sungai dan sumber lainnya.
Berbagai alternatif untuk penyediaan air baku yang mencukupi perlu terus dipikirkan dan dikembangkan. PAM Jaya membutuhkan sekitar 32.950 liter per detik (2.836.880 m³ per hari) untuk mencapai target pelayanan air bersih 100 persen bagi seluruh masyarakat Jakarta pada tahun 2029.
Sebagaimana diketahui, sejak Februari 2023 PAM Jaya resmi mengambil alih pengelolaan air bersih di Jakarta dari Aetra dan Palyja. Artinya, hingga tahun 2026 ini, proses tersebut baru berjalan sekitar tiga tahun. Pada awal pengambilalihan, cakupan pelayanan baru mencapai 59,53 persen, sedangkan saat ini telah meningkat menjadi sekitar 80,24 persen atau mendekati 81 persen. Jumlah pelanggan pun meningkat dari 948.594 Sambungan Rumah (SR) menjadi sekitar 1.178.000 SR.
Pada awal pengelolaan penuh oleh PAM Jaya pada tahun 2023, panjang jaringan pipa tercatat sekitar 12.195 km. Dalam kurun waktu tiga tahun, PAM Jaya berhasil menambahnya menjadi 16.234 km. Sementara itu, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) tercatat sebesar 46,2 persen, dengan target penurunan hingga 30 persen pada tahun 2029.
Dari sisi distribusi, pada awal tahun 2023 kapasitas air yang didistribusikan baru mencapai 20.935 liter per detik (1.808.784 m³ per hari). Pada tahun 2026, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 22.583 liter per detik, dengan target pada tahun 2029 mencapai 32.950 liter per detik atau sekitar 2.836.880 m³ per hari.
Dalam konteks menjaga konsistensi pencapaian program dan target tersebut, alternatif solusi penyediaan air baku harus terus diupayakan. Selain mengandalkan air permukaan (air sungai) dengan menekan tingkat pencemaran serta mengembalikan lebar dan kedalaman sungai ke kondisi ideal, alternatif lain juga perlu dirumuskan. Dalam hal ini, setidaknya terdapat dua alternatif yang berpotensi menghasilkan volume air baku yang memadai untuk memenuhi kebutuhan PAM Jaya di masa mendatang.
Pertama, pembangunan terowongan bawah tanah berskala besar sebagai solusi untuk mengatasi banjir Jakarta. Air yang nantinya tertampung dalam jumlah besar berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku bagi PAM Jaya.
Alternatif kedua adalah pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa. Dengan adanya Giant Sea Wall, aliran dari 13 sungai dapat tertampung dalam jumlah besar. Dalam jangka waktu tertentu, air yang tertampung tersebut berpotensi mengalami proses alami menjadi lebih tawar dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk pengelolaan air minum oleh PAM Jaya.
Seluruh inovasi ini menunjukkan bahwa masa depan penyediaan air minum akan semakin terintegrasi antara teknologi, kebijakan, dan kesadaran lingkungan. Dalam konteks tersebut, water purifier bukan sekadar alat penyaring air, melainkan bagian dari ekosistem solusi yang menghubungkan aspek kesehatan, keberlanjutan lingkungan, dan efisiensi sistem air perkotaan.
Akhirnya, perlu saya tegaskan bahwa kombinasi penguatan infrastruktur oleh PAM Jaya, penggunaan pipa food grade, serta peralihan menuju kemasan ramah lingkungan berbasis kertas merupakan hal yang sangat penting. Untuk mewujudkan hal tersebut, visi menghadirkan air minum yang aman, berkelanjutan, dan minim plastik bukanlah sesuatu yang utopis atau khayalan imajiner belaka, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan secara bertahap dan terukur.
[Redaktur: Alpredo Gultom]