Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang akan memperluas pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) ke lima kota administratif.
Langkah ini dinilai sebagai kebijakan progresif yang tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memperkuat konsep aglomerasi Jabodetabekjur yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Baca Juga:
CFD Kota Bekasi Kembali Digelar, Tri Adhianto Imbau Pedagang Tertib
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kebijakan ini harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas dari sekadar kegiatan mingguan.
“Perluasan CFD ini bukan hanya soal ruang olahraga, tetapi bagian dari strategi besar membangun ekosistem kota sehat dan rendah emisi. Jika dikembangkan dengan serius, ini bisa menjadi fondasi penting dalam integrasi wilayah Jabodetabekjur,” ujar Tohom, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, langkah Pemprov DKI yang tengah memetakan lokasi strategis di lima wilayah kota menunjukkan keseriusan dalam menghadirkan pemerataan akses ruang publik.
Baca Juga:
Kerajinan Tangan Menarik Perhatian Pengunjung di Car Fee Day
Hal ini dinilai sejalan dengan kebutuhan kota megapolitan yang semakin padat dan kompleks.
Lebih lanjut, rencana menghadirkan Car Free Night di kawasan Sudirman–Thamrin juga dinilai sebagai inovasi yang adaptif terhadap pola hidup masyarakat urban.
Tohom menilai, perubahan gaya hidup warga yang kini banyak beraktivitas di malam hari harus direspons dengan kebijakan yang fleksibel.
"Car Free Night adalah terobosan yang relevan, terutama untuk menghidupkan ruang kota secara lebih inklusif,” tambahnya.
Ia juga menyebutkanbahwa kegiatan seperti pertunjukan seni dan budaya dalam CFD memiliki nilai strategis dalam membangun identitas kota sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.
“Ketika ruang publik diisi dengan seni, budaya, dan interaksi sosial, maka kota tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara sosial dan psikologis,” jelasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa kebijakan seperti ini seharusnya tidak berhenti di wilayah administratif DKI Jakarta saja.
“Konsep aglomerasi Jabodetabekjur menuntut adanya harmonisasi kebijakan antarwilayah. CFD dan Car Free Night idealnya juga dikembangkan di kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang, hingga Bogor agar dampaknya lebih luas dan terintegrasi,” tegasnya.
Menurutnya, integrasi tersebut akan memberikan efek berlipat, baik dalam pengurangan emisi karbon, peningkatan kualitas udara, maupun pembentukan budaya hidup sehat lintas wilayah.
Ia juga mendorong adanya sinergi kebijakan transportasi publik dengan pelaksanaan CFD agar manfaatnya semakin optimal.
“Ke depan, konsep ini bisa dikembangkan menjadi agenda regional berbasis aglomerasi, bukan lagi sekadar program lokal DKI. Ini penting untuk mendukung visi pembangunan nasional yang berkelanjutan,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]