Menurut dia, kebijakan seperti ini penting karena masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pengalaman kota yang manusiawi, mudah diakses, dan memberi ruang interaksi lintas komunitas.
“Transportasi publik dan ruang wisata yang terbuka akan memperkuat rasa memiliki warga terhadap Jakarta, termasuk warga penyangga yang setiap hari ikut menggerakkan ekonomi ibu kota,” ujarnya.
Baca Juga:
Jakarta Masuk 100 Kota Terbaik Dunia 2026, Tumbangkan Washington DC dan Abu Dhabi
Tohom menilai momentum HUT ke-499 Jakarta harus menjadi pintu untuk memperkuat integrasi layanan publik di kawasan Jabodetabekjur secara lebih visioner.
Ia mengatakan tantangan Jakarta ke depan bukan hanya membangun fasilitas besar, tetapi memastikan fasilitas tersebut benar-benar bisa diakses masyarakat luas secara nyaman, aman, dan terhubung.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh kemampuannya membangun konektivitas dengan wilayah sekitar.
Baca Juga:
Pramono: Panggung Dunia Hadir di Jakarta karena Kota Ini Dinilai Aman dan Nyaman
Menurutnya, Jakarta jangan berjalan sendiri karena kemacetan, mobilitas pekerja, pariwisata, kualitas udara, pengelolaan sampah, dan ruang publik merupakan persoalan lintas batas wilayah.
“Jakarta baru harus menjadi simpul kolaborasi, bukan menara yang berdiri sendiri di tengah kawasan aglomerasi,” kata Tohom.
Ia juga mengapresiasi hadirnya kegiatan budaya Betawi di Setu Babakan karena pembangunan kota modern harus tetap berakar pada identitas lokal.