Menurut Tohom, pelestarian ondel-ondel, rebana biang, tanjidor, gambang kromong, palang pintu, kuliner Betawi, dan rumah adat Betawi merupakan bagian dari menjaga jiwa Jakarta di tengah perubahan zaman.
“Jakarta boleh semakin global, tetapi akar Betawi harus tetap hidup sebagai identitas budaya yang memberi warna dan karakter kota,” ujarnya.
Baca Juga:
Jakarta Masuk 100 Kota Terbaik Dunia 2026, Tumbangkan Washington DC dan Abu Dhabi
Tohom juga melihat kegiatan JIS Sport Festival dan Kampung Bola JIS sebagai bentuk pemanfaatan ruang publik modern yang dapat mempertemukan olahraga, hiburan, UMKM, komunitas, dan keluarga.
Ia mengatakan konsep sportainment di JIS sejalan dengan kebutuhan kota masa depan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesehatan warga, kebahagiaan publik, dan interaksi sosial.
“Ruang publik seperti JIS harus terus dihidupkan agar masyarakat merasa bahwa fasilitas besar negara dan daerah benar-benar kembali kepada rakyat,” ucapnya.
Baca Juga:
Pramono: Panggung Dunia Hadir di Jakarta karena Kota Ini Dinilai Aman dan Nyaman
Tohom berharap kebijakan transportasi dan wisata gratis dalam HUT Jakarta tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi inspirasi untuk membangun sistem layanan publik yang makin terintegrasi di kawasan Jabodetabekjur.
Ia mengatakan pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki semangat besar dalam memperkuat pemerataan, konektivitas, dan pelayanan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“MARTABAT Prabowo-Gibran melihat Jakarta sebagai etalase perubahan nasional, sehingga setiap kebijakan yang inklusif, terbuka, dan berpihak kepada rakyat patut didukung,” kata Tohom.