Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif progres pembangunan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan yang ditargetkan rampung pada 2027.
Organisasi relawan nasional tersebut menilai kehadiran ruas tol ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat konektivitas kawasan sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas di jalur utama yang selama ini menjadi titik krusial arus mudik dan balik.
Baca Juga:
Kementerian PU Percepat Perbaikan Jalan Nasional di Lampung Jelang Mudik Lebaran 2026
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menyatakan bahwa proyek Japek II Selatan merupakan wujud konkret pembangunan infrastruktur yang berorientasi pada kebutuhan jangka panjang.
“Tol ini bukan hanya proyek jalan, tetapi instrumen penting dalam membangun efisiensi logistik nasional dan memperkuat daya saing kawasan industri di Jawa Barat,” ujarnya.
Ia menilai progres pembangunan yang sudah mencapai di atas 90% pada beberapa seksi menunjukkan akselerasi kerja yang patut diapresiasi, meskipun masih terdapat tantangan pada pembebasan lahan dan konstruksi di paket awal.
Baca Juga:
Skema Buffer Zone Disiapkan di Rest Area Tol untuk Antisipasi Kepadatan Mudik Lebaran 2026
“Kita melihat ada dinamika di lapangan, tetapi secara keseluruhan ini on track. Kuncinya adalah konsistensi dan koordinasi lintas sektor agar target 2027 benar-benar tercapai,” kata Tohom.
Menurutnya, rencana pengoperasian fungsional sepanjang 52 km saat libur Lebaran 2026 merupakan kebijakan yang tepat dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kebijakan membuka satu lajur untuk arus balik adalah langkah realistis. Ini menunjukkan pemerintah mampu membaca pola pergerakan kendaraan dan menyiapkan solusi berbasis data,” tambahnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa kehadiran Japek II Selatan akan memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan kawasan aglomerasi Jabodetabek dan sekitarnya.
“Konektivitas Sadang hingga Jatiasih akan membuka simpul-simpul ekonomi baru, termasuk kawasan industri dan permukiman yang selama ini belum terintegrasi optimal,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi ruas tol ini dengan jaringan lain seperti Tol Cimanggis-Cibitung yang menjadi bagian dari JORR 2.
Menurutnya, integrasi tersebut akan menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan mengurangi bottleneck di titik-titik krusial seperti KM 66.
“Dengan kapasitas hingga 2.000 kendaraan per jam, ini bukan hanya solusi jangka pendek saat mudik, tetapi fondasi sistem transportasi modern,” tegasnya.
Lebih jauh, Tohom memandang proyek ini sebagai simbol keberlanjutan pembangunan infrastruktur nasional yang harus dijaga momentumnya.
“Ke depan, kita butuh lebih banyak proyek seperti ini yang tidak hanya membangun jalan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]