Talkshow Orang Muda memperbincangkan pentingnya menjaga privasi dari bahaya penipuan digital. Ketua Komisi Kepemudaan KWI, RD. Frans Kristi Adi, menyinggung kecenderungan kaum muda untuk selalu viral dan terlihat “keren” di media sosial. Penggunaan AI sering jadi pilihan untuk mendukung kecenderungan itu.
“Bisa saja kita terlihat hangat di media sosial tapi di dunia nyata menjadi dingin,” kata Adi, mengingatkan AI hanya alat bantu yang tidak pernah mampu menggantikan hati nurani manusia.
Baca Juga:
Komunikasi Sosial Korem 181/Praja Vira Tama dengan Aparat Pemerintah
Influencer lokal yang telah melanglang buana ke sejumlah negara, F. Deliana Winki atau Delly Sape’, mengatakan, justru ciri khas diri yang asli yang harus ditampilkan, bukan realitas palsu.
Dia mencontohkan dirinya, seorang gadis muda pemain sape’--alat musik petik tradisional Dayak–membranding diri dengan identitas budaya lokal. Sape’ menjadi pilihan karena alat musik itu mewakili “suara hutan” yang lekat dengan komunitas masyarakat Dayak.
“Andalkan Tuhan dalam setiap usaha. Aku bisa sampai ke Vatikan karena berkat Tuhan. Setiap pribadi itu unik,” ujar Delly Sape’.
Baca Juga:
Babinsa Kuala Kencana Laksanakan Komsos dan Pendampingan Kepada Petani
Bapak-bapak Penjaga Keluarga
Di talkshow khusus Bapak-bapak Katolik, tampil artis senior Lisa A. Riyanto, selain dua pembicara perempuan lainnya. Lisa mengingatkan pentingnya peran kaum bapak menjaga keharmonisan keluarga di tengah pesatnya AI.
Dia mengatakan, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan anggota keluarga, bukan justru menjauhkan hubungan yang sudah dekat.