"Bahkan mungkin (kandungan paracetamol di Sungai Citarum) bisa jauh lebih tinggi lagi tiga atau empat kali lipat (dari Teluk di Jakarta)," terang Zainal kepada wartawan, Jumat (18/2/2022).
Sumber kontaminan paracetamol, kata dia, bisa berasal dari darat (land-based sources).
Baca Juga:
Survei 2025 Ungkap Gen Z Paling Toleran dan Unggul dalam Literasi Al-Qur’an
Jika di daratan, maka limbah obat-obatan seperti parasetamol bisa berasal dari instalasi pengelolaan limbah air limbah (IPAL) yang tidak maksimal.
Selain itu, penggunaan paracetamol yang berlebihan, pembuangan sisa obat kedaluwarsa, ataupun berasal dari perusahaan yang tidak mengelola limbahnya dengan baik.
"Saya kira kualitas air Citarum jelas berbeda dibanding 25 atau 50 tahun yang lalu, dan makin memburuk kualitas airnya, akibat beragam bahan pencemar," imbuhnya.
Baca Juga:
Wamen PANRB dan Wamenhub Tinjau Posko Pusat Angkutan Nataru 2026, Pastikan Layanan Publik Tetap Optimal
Menurut dia, hasil riset lainnya yang dilakukan peneliti BRIN juga telah menemukan keanekaragaman ikan turun drastis.
Kemudian, kualitas air Sungai Citarum serta beberapa sungai di Pulau Jawa cenderung menurun akibat buruknya pengelolaan limbah rumah tangga, dan IPAL yang tidak maksimal.
"Hipotesis saya memang kualitas air sungai-sungai Pulau Jawa dan Sumatera cenderung menurun, saya tidak tahu di tingkat indonesia karena sangat tergantung pada kondisi wilayahnya," ujar Zainal.