"Namun hasil review tim kami terkait kualitas beberapa muara-muara sungai (estuari) di pesisir utara Jawa, pesisir timur Sumatera dan Pulau Kalimantan memiliki konsentrasi nutrient yang relatif tinggi. Jadi bukan parasetamol yang saya sebut di sini adalah nutrient (unsur hara) yang berlebih akibat aktivitas manusia di darat," sambungnya.
Apabila ditinjau dari angka rata-rata konsentrasi limbah obat-obatan yang terakumulasi dilihat dari data University of York, limbah di Sungai Citarum berada di bawah tingkat keparahan sungai di Lahore, Pakistan.
Baca Juga:
Survei 2025 Ungkap Gen Z Paling Toleran dan Unggul dalam Literasi Al-Qur’an
Sungai Citarum mencapai 5460 ng/L, sedangkan Sungai Ravi di Lahore adalah yang terparah dengan 70.700 ng/L.
Sampel dari 104 Negara
Baca Juga:
Wamen PANRB dan Wamenhub Tinjau Posko Pusat Angkutan Nataru 2026, Pastikan Layanan Publik Tetap Optimal
Adapun riset dari itu telah meneliti sampel dari 1.052 lokasi di 104 negara.
Hasilnya, sekitar 25 persen dari 258 sungai yang sampelnya diteliti mengandung zat aktif obat-obatan pada tingkatan yang diyakini tidak aman bagi organisme perairan.
"Biasanya, yang terjadi adalah kita mengonsumsi zat kimia ini. Zat tersebut menghasilkan efek yang diinginkan kemudian meninggalkan tubuh kita," ungkap ketua tim penelitian, Dr John Wilkinson, dilansir dari BBC, Selasa (15/2/2022).