Transportasi publik, lanjut Tohom, harus dipandang sebagai instrumen strategis pembangunan ekonomi, bukan semata proyek infrastruktur.
“Konektivitas adalah fondasi produktivitas nasional. Tanpa itu, pertumbuhan akan timpang,” tegasnya.
Baca Juga:
HUT Ke-499 Jakarta Buka Akses Publik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jabodetabekjur Butuh Konektivitas Berkeadilan
Di sisi lain, Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menggarisbawahi pentingnya melihat kebijakan ini dalam kerangka aglomerasi Jabodetabekjur.
Menurutnya, integrasi transportasi ke bandara akan memperkuat fungsi kawasan sebagai satu kesatuan ekonomi dan sosial.
“Aglomerasi tidak boleh terfragmentasi. Transportasi publik adalah urat nadi yang menyatukan Jakarta dengan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Cianjur,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Tim Anggar Jambi Raih Empat Medali Perunggu di Kejurnas Piala RDPS Cup 2026 Palembang
Ia mendorong agar integrasi tersebut disertai tata kelola lintas daerah yang solid, termasuk keselarasan regulasi, tarif, dan layanan.
Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan warga Jakarta, tetapi juga masyarakat daerah penyangga.
“Kalau ini konsisten dijalankan, Jabodetabekjur bisa naik kelas sebagai megapolitan yang efisien dan kompetitif di tingkat regional,” ucapnya.