Tohom juga menyoroti pentingnya integrasi Stasiun KRL Bekasi sebagai pusat konektivitas multipola.
“Jika titik simpul seperti stasiun KRL, LRT, dan MRT disatukan lewat jaringan feeder skytrain, maka mobilitas masyarakat akan lebih tertata dan kota akan berkembang bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara tata ruang,” tegasnya.
Baca Juga:
Indikasi Kota Global, MARTABAT Prabowo–Gibran Sebut Aglomerasi Jabodetabekjur Mendesak Memiliki Moda Transportasi Umum Terintegrasi
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menambahkan bahwa pengawasan terhadap pembangunan transportasi publik di kawasan aglomerasi menjadi kebutuhan mendesak agar kebijakan tidak hanya berhenti sebagai wacana.
Ia menilai, skytrain Bekasi bisa menjadi model integrasi yang bisa direplikasi ke wilayah lain seperti Depok, Tangerang, dan Bogor jika terbukti efektif.
“Ini soal keberanian mengambil langkah konkret. Jika Bekasi berhasil membangun feeder skytrain yang menghubungkan universitas, stadion, mal, rumah sakit, dan simpul transportasi massal lainnya, maka kota-kota lain tidak akan ragu mengikuti.
Baca Juga:
Dorong Integrasi Wisata, MARTABAT Prabowo–Gibran Sambut Positif Jalur Kereta Jakarta–Cianjur
Ini momentum untuk mempercepat transformasi aglomerasi Jabodetabekjur menuju kota masa depan,” tutupnya.
Sebelumnya, proyek ini juga diproyeksikan menjadi feeder utama yang menghubungkan berbagai titik aktivitas warga di Bekasi.
Rencananya, skytrain ini akan terintegrasi dengan universitas, stadion, pusat perbelanjaan, rumah sakit, hingga simpul transportasi massal seperti KRL, LRT, dan MRT East-West.