Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menggarisbawahi pentingnya tata kelola berbasis data dan prediksi keramaian.
Ia menilai lonjakan kunjungan ke PIK menjadi pengingat bahwa manajemen kapasitas destinasi harus diantisipasi lebih matang.
Baca Juga:
Transportasi Publik Rp8 Saat HUT RI, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bisa Jadi Model Kolaborasi Jabodetabekjur
“Kita tak ingin wisatawan datang, lalu kecewa karena macet dan antrean panjang. Di sinilah pentingnya integrasi antar moda transportasi, teknologi informasi dalam sistem reservasi, hingga manajemen crowd control berbasis real-time,” paparnya.
Tohom juga menilai perlunya insentif kebijakan dari pemerintah pusat agar sektor pariwisata di kawasan aglomerasi menjadi prioritas lintas kementerian.
“Jangan sampai pariwisata hanya dilihat sebagai sektor hiburan. Ini sektor ekonomi strategis yang menyerap tenaga kerja, menghidupkan UMKM, dan memperkuat identitas lokal,” jelasnya.
Baca Juga:
Laba BUMN Melesat di Semester I 2026, MARTABAT Prabowo-Gibran: Danantara Mulai Tunjukkan Arah Positif
Jika sektor pariwisata dikelola dengan visi kebangsaan dan pendekatan kerakyatan, sambung Tohom, maka kawasan Jabodetabekjur akan menjadi contoh transformasi megapolitan yang sesungguhnya.
"Jadi kawasan yang berdaya saing, berkarakter, dan bermartabat,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]