Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi relawan nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mempercepat perbaikan permanen ribuan jalan berlubang sebagai langkah positif yang perlu diperluas dalam kerangka aglomerasi Jabodetabekjur.
Menurut mereka, kebijakan ini bukan sekadar respons teknis musiman, melainkan harus menjadi bagian dari strategi besar pembangunan konektivitas kawasan penyangga ibu kota di era kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Baca Juga:
IKN Makin Siap, Staf Wapres Mulai Tempati Kawasan Pemerintahan
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai percepatan perbaikan jalan di Jakarta harus dibaca sebagai sinyal awal pembenahan infrastruktur perkotaan yang lebih luas dan terintegrasi.
“Perbaikan jalan ini tidak boleh berhenti di Jakarta saja. Ini harus menjadi standar baru untuk kawasan aglomerasi Jabodetabekjur, karena mobilitas masyarakat hari ini sudah lintas wilayah,” ujar Tohom.
Ia menyebutkan bahwa kerusakan jalan yang mencapai ribuan titik menunjukkan adanya persoalan struktural, bukan sekadar dampak musim hujan.
Baca Juga:
Operasional Total Tol IKN Ditargetkan Rampung 2027, MARTABAT Prabowo-Gibran: Percepat Konektivitas dan Ekonomi Kawasan
Karena itu, pendekatan permanen yang tengah disiapkan Dinas Bina Marga dinilai sebagai langkah yang tepat, asalkan dibarengi dengan perencanaan jangka panjang berbasis data dan koordinasi lintas daerah.
“Kalau hanya tambal sulam tanpa sistem, kita akan terus mengulang masalah yang sama setiap tahun. Kita butuh pendekatan berbasis ketahanan infrastruktur, bukan sekadar respons darurat,” katanya.
Tohom juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi dan material yang adaptif terhadap perubahan iklim, seperti penggunaan cold mix dan semen cepat kering yang disebutkan dalam program perbaikan tersebut. Menurutnya, inovasi teknis harus berjalan seiring dengan inovasi tata kelola.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa konsep aglomerasi Jabodetabekjur menuntut adanya keseragaman standar kualitas jalan di seluruh wilayah, termasuk kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang, hingga Bogor.
Ketimpangan kualitas infrastruktur, kata dia, akan berdampak langsung pada efisiensi logistik dan keselamatan pengguna jalan.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa momentum peralihan ke musim kemarau harus dimanfaatkan untuk melakukan pelapisan jalan secara menyeluruh dan terencana.
“Ini saat yang tepat untuk eksekusi program permanen. Jangan sampai musim kemarau lewat tanpa ada peningkatan kualitas yang signifikan. Kita bicara soal daya saing kawasan metropolitan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam perspektif kepemimpinan nasional saat ini, pembangunan infrastruktur harus diarahkan pada integrasi kawasan, bukan lagi pendekatan sektoral.
Jakarta sebagai pusat ekonomi, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menjadi role model bagi daerah sekitarnya.
“Visi besar Prabowo-Gibran adalah konektivitas dan pemerataan. Maka perbaikan jalan di Jakarta harus ditarik ke level strategis sebagai bagian dari penguatan ekosistem Jabodetabekjur,” kata Tohom.
Dengan demikian, MARTABAT Prabowo-Gibran berharap langkah Pemprov DKI Jakarta tidak hanya menyelesaikan persoalan jalan berlubang, tetapi juga menjadi fondasi bagi transformasi infrastruktur perkotaan yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan di kawasan metropolitan terbesar di Indonesia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]