Ia juga mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Jakarta kuartal IV/2025 yang mencapai 5,71% (yoy) dan lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional.
Menurutnya, pemulihan cepat pascakoreksi pada kuartal III/2025 menunjukkan pentingnya kepemimpinan daerah yang tegas dan responsif.
Baca Juga:
Indonesia Jadi Tuan Rumah Perdana FIFA ASEAN 2026, Jakarta dan Bandung Siapkan Venue
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa stabilitas keamanan dan kepastian kebijakan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha.
“Ketika pemimpin daerah berani mengambil keputusan strategis dan menjaga rasa aman publik, maka dunia usaha bergerak lebih cepat. Inilah fondasi utama ekonomi aglomerasi—kepercayaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berpandangan ekonomi kreatif, sektor MICE, akomodasi, makanan dan minuman, serta jasa berbasis inovasi akan menjadi mesin pertumbuhan baru.
Baca Juga:
Menembus Tembok Imunitas, PPWI Desak Mabes Polri Ambil Alih Kasus Korupsi SPPD Fiktif DPRD Riau
Dalam kerangka visi nasional Prabowo-Gibran, Jakarta diproyeksikan berperan sebagai pusat pertumbuhan modern yang menopang transformasi ekonomi berbasis nilai tambah dan digitalisasi di kawasan penyangga.
“Ke depan, kita harus memastikan bahwa pertumbuhan Jakarta tidak eksklusif, tetapi inklusif dan terdistribusi ke wilayah sekitar. Dengan demikian, aglomerasi Jabodetabekjur benar-benar menjadi superhub ekonomi nasional yang kompetitif di tingkat global,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]