Tohom menambahkan, kolaborasi antara MRT Jakarta dan Urban Renaissance Agency (UR Agency) dari Jepang menjadi contoh hubungan internasional yang produktif dan saling menguntungkan.
“Kita harus belajar bagaimana Jepang melihat kota bukan hanya sebagai ruang tinggal, tetapi sebagai ekosistem sosial dan ekonomi yang hidup,” tuturnya.
Baca Juga:
MRT Jakarta–Bekasi Segera Dibangun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Integrasi Ekonomi Kawasan
Sebagai kawasan dengan pergerakan manusia tertinggi di Jakarta, Dukuh Atas akan menjadi titik sentral dari sistem transportasi modern Indonesia.
Dengan terhubungnya MRT, LRT, KRL, Kereta Bandara, dan TransJakarta, proyek jembatan Cincin Donat ini diyakini dapat menggandakan jumlah pengguna transportasi publik hingga tahun 2030.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana memastikan seluruh wilayah di Jabodetabekjur terhubung secara fungsional dan estetis.
Baca Juga:
Menuju Kota Dunia, MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai TOD MRT Jakarta Dapat Menyamai Orchard Road dalam Skema Aglomerasi Jabodetabekjur
"Tidak cukup hanya membangun, tapi harus ada narasi kota global yang menempatkan manusia sebagai pusatnya,” tegasnya.
Ia menilai, proyek ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menempatkan modernisasi infrastruktur sebagai salah satu pilar menuju Indonesia Emas 2045.
“MRT Jakarta sudah memberi contoh bahwa pembangunan tidak harus selalu megah di atas kertas, tapi nyata, adaptif, dan berdampak. Kini tinggal bagaimana daerah lain ikut berani berinovasi agar kawasan aglomerasi ini menjadi metropolitan kelas dunia,” pungkasnya.