Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif wacana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pendidikan di Jakarta Barat sebagai langkah strategis yang sejalan dengan visi besar menjadikan Jakarta dan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagai kota global berkelas dunia.
Gagasan ini dinilai bukan sekadar proyek sektoral, melainkan fondasi jangka panjang untuk memperkuat daya saing nasional melalui penguatan sumber daya manusia dan ekonomi berbasis pengetahuan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai Ekspansi Ritel Bukti Daya Tarik Jakarta
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, memandang pendidikan sebagai strategic leverage bagi Indonesia dalam menghadapi kompetisi global.
Kehadiran pusat-pusat pendidikan bertaraf internasional di Jakarta Barat diyakini akan menciptakan ekosistem baru yang memperkuat reputasi kawasan aglomerasi sebagai magnet talenta, inovasi, dan investasi global.
"Pengembangan KEK Pendidikan merupakan bagian dari strategi besar transformasi Jakarta pasca-ibu kota negara tidak lagi berstatus administratif," kata Tohom, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga:
Fasilitas Uji Kendaraan Kelas Dunia Rampung Dibangun di Bekasi, MARTABAT Prabowo-Gibran Sebut Infrastruktur Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur Layak Jadi Kota Global
Menurutnya, kota global tidak hanya diukur dari gedung tinggi dan pusat keuangan, tetapi dari kualitas ekosistem pendidikannya.
“Kalau kita bicara kota global, maka pendidikan kelas dunia adalah jantungnya. KEK Pendidikan di Jakarta Barat akan menjadi anchor baru yang memperkuat posisi Jabodetabekjur sebagai aglomerasi modern, kompetitif, dan berorientasi masa depan,” beber Tohom.
Ia menilai Jakarta Barat memiliki modal sosial dan institusional yang kuat, dengan keberadaan sejumlah universitas besar seperti Universitas Trisakti, Universitas Tarumanagara, dan Universitas Kristen Krida Wacana.
Ekosistem ini, menurutnya, tinggal diperkuat melalui kebijakan afirmatif negara agar mampu naik kelas menjadi pusat pendidikan internasional.
Tohom juga menyoroti dampak lanjutan dari KEK Pendidikan terhadap ekonomi perkotaan. Pengembangan pendidikan bertaraf global akan mendorong lahirnya ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), memperkuat riset dan inovasi, serta memicu tumbuhnya startup dan industri kreatif yang berkelanjutan.
“Ini berkaitan dengan penciptaan mesin pertumbuhan ekonomi baru. Pendidikan akan menarik talenta global, talenta akan menarik investasi, dan investasi akan memperkuat daya saing kota,” jelasnya.
Lebih jauh, Tohom melihat KEK Pendidikan sebagai instrumen penting untuk menata ulang arus pergerakan manusia dan aktivitas ekonomi di Jakarta.
Selama ini, konsentrasi ekonomi yang berat di Jakarta Selatan telah menimbulkan tekanan lalu lintas dan ketimpangan kawasan.
“Dengan membangun economic engine baru di barat Jakarta, kita menciptakan distribusi people flow yang lebih seimbang. Ini akan berdampak langsung pada kualitas hidup warga dan efisiensi kota secara keseluruhan,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch, mengungkapkan bahwa pengembangan KEK Pendidikan harus dirancang dalam kerangka aglomerasi Jabodetabekjur, bukan berdiri sendiri secara administratif.
Integrasi transportasi publik, hunian terjangkau, infrastruktur digital, serta kolaborasi lintas wilayah menjadi kunci keberhasilannya.
“Kalau mau Jakarta Barat menjadi pusat pendidikan kelas dunia, maka ia harus terhubung mulus dengan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Inilah esensi kota global berbasis aglomerasi, bukan kota yang bekerja sendiri-sendiri,” kata Tohom.
Ia menambahkan, momentum global saat ini -- termasuk pergeseran minat studi ke kawasan Asia -- harus ditangkap secara strategis oleh pemerintah.
Menurutnya, kebijakan visa, perizinan universitas asing, serta insentif fiskal harus dirancang progresif agar Jakarta mampu bersaing dengan kota-kota pendidikan dunia lainnya.
“Ini adalah kesempatan emas. Kalau dikelola dengan visi dan keberanian kebijakan, KEK Pendidikan Jakarta Barat bisa menjadi simbol kebangkitan Jakarta sebagai pusat pendidikan, inovasi, dan peradaban global,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]