Ia menyebut dukungan orang tua, suami, anak-anak, para pimpinan, serta rekan-rekan kerja di berbagai lingkungan tugas sebelumnya menjadi energi besar dalam menyelesaikan studi tersebut.
Lebih jauh, Iin menegaskan bahwa penelitian yang diangkatnya bukan sekadar kajian akademis, melainkan diharapkan mampu diterapkan dalam kebijakan pemerintahan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Baca Juga:
Raih Gelar Doktor ke 350 IPDN, Era Era Hia Bedah Ini dalam Disertasinya
“Penelitian ini menjadi ruang untuk melihat keterhubungan antara teori, regulasi, dan realitas di lapangan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana hasil penelitian itu benar-benar dapat diimplementasikan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Dalam disertasinya, Iin menyoroti pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai instrumen pendukung tata kelola pemerintahan, khususnya dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Menurutnya, teknologi AI bukan pengganti peran manusia, melainkan alat bantu strategis dalam proses pengambilan keputusan.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut diperkuat melalui teori Smart Nation Governance System (SNGS) yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor berbasis konsep Pentahelix.
Baca Juga:
Deretan Komjen Pol Bergelar Doktor, 2 di Antaranya Berdarah Batak
“AI harus hadir untuk memperkuat kecerdasan alami manusia dalam ruang kolaborasi. Data yang digunakan untuk pengambilan keputusan harus objektif, bebas dari kepentingan pribadi maupun konflik kepentingan,” ungkapnya.
Melalui algoritma berbasis pembelajaran mesin, lanjut Iin, sistem AI dapat membantu pemerintah mengolah data dari berbagai perangkat daerah dan elemen pendukung secara lebih cepat dan akurat, sehingga kebijakan yang dihasilkan menjadi lebih tepat sasaran.
Sebagai bentuk implementasi nyata dari hasil penelitiannya, Iin mengungkapkan rencana penerapan konsep tersebut pada program penataan kawasan industri rumah tangga konveksi di wilayah Tambora, Jakarta Barat.