Dalam perjalanan kariernya, Pramono Anung juga memiliki latar belakang sebagai pengusaha, yang memperkaya perspektifnya dalam pengambilan keputusan berbasis efisiensi dan realitas ekonomi. Kombinasi pengalaman politik, birokrasi, dan dunia usaha tersebut menjadikan Pramono sebagai figur yang disegani, baik oleh kawan maupun lawan politik, serta oleh kalangan profesional dan masyarakat luas.
Faktor-faktor tersebut menjadi salah satu modal penting dalam keberhasilannya meraih posisi sebagai Gubernur DKI Jakarta. Saya berpendapat, jika pada Pilkada Jakarta 2024 lalu PDI Perjuangan tidak mengusung Pramono Anung sebagai Gubernur Jakarta, kemungkinan besar partai tersebut tidak akan memenangkan Pilkada. Saat ini, dalam memimpin Jakarta, Pramono mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Bahkan, Presiden Prabowo sendiri telah menegaskan dukungannya terhadap kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo.
Baca Juga:
Pengusaha Padel Anggap Ultimatum Gubernur Pepesan Kosong
Singkatnya, Jakarta beruntung memiliki pemimpin yang hebat, yakni gubernur dengan pengalaman lengkap serta jaringan yang luas dan kuat, baik di pemerintahan pusat maupun daerah, termasuk dengan institusi seperti TNI, Polri, Kejaksaan, dan KPK, serta berbagai lembaga lainnya. Hal ini merupakan modal yang sangat baik untuk membangun dan memajukan Jakarta sebagai kota global sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Namun, di balik berbagai kekuatan tersebut, terdapat sejumlah karakter yang berpotensi menjadi kelemahan, atau juga dapat dipersepsikan sebagai kekurangan apabila tidak dikelola secara tepat, khususnya dalam konteks kepemimpinan eksekutif yang menuntut ketegasan dan kecepatan. Dalam hal ini, merujuk pada kepemimpinan Gubernur Pramono Anung Wibowo, saya melihat, terdapat sembiln karakter yang perlu mendapat perhatian untuk ditransformasikan menjadi kekuatan.
Pertama, adanya kecenderungan sikap yang terlalu baik hati. Kedua, keengganan untuk mengecewakan pihak lain. Ketiga, dorongan kuat untuk selalu menjaga situasi tetap kondusif di internal ASN, pejabat, dan BUMD Pemprov DKI Jakarta. Keempat, kecenderungan untuk menghindari konflik terbuka. Kelima, tingkat kepercayaan yang tinggi kepada jajaran pejabat dan para pembantunya. Keenam, kehati-hatian dalam memberikan sanksi atau melakukan pergantian jabatan. Ketujuh, kecenderungan untuk lebih mengayomi dan melindungi bawahannya.
Baca Juga:
Antisipasi Lonjakan Pemudik, Kemenhub dan Pemprov DKI Siapkan Posko hingga Rekayasa Lalu Lintas
Untuk karakter kedelapan adalah minimnya ambisi politik. Hal ini tercermin dari pernyataannya yang hanya ingin menjabat sebagai Gubernur Jakarta selama satu periode, serta penegasannya untuk tidak maju dalam kontestasi Pilpres 2029. Kemudian, kesembilan adalah sikap yang terlalu rendah hati serta kurang menunjukkan ketegasan dalam membangun legacy kebijakan baru. Ia cenderung lebih fokus menyelesaikan berbagai persoalan Jakarta yang merupakan warisan dari gubernur sebelumnya.
Dalam konteks transformasi tersebut, sikap yang terlalu baik hati, misalnya, dapat diarahkan menjadi kepemimpinan yang humanis namun tetap berorientasi pada kinerja. Keengganan untuk mengecewakan pihak lain perlu diimbangi dengan keberanian dalam menetapkan prioritas kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik yang lebih luas. Keinginan untuk menjaga situasi kondusif harus diterjemahkan sebagai kemampuan mengelola konflik secara produktif. Sementara itu, kepercayaan kepada bawahan harus dibarengi dengan sistem pengawasan dan evaluasi yang ketat serta terukur.
Sedangkan untuk minimnya ambisi politik, hal tersebut dapat ditransformasikan dengan cara terus merespons dan mendengar aspirasi publik, serta bekerja secara jujur, ikhlas, dan terukur berdasarkan capaian yang diharapkan masyarakat. Pada akhirnya, biarlah publik yang menilai dan menentukan kinerja Gubernur Pramono Anung. Di sisi lain, terdapat pula sisi positif dari karakter ini, yakni publik dapat menilai Pramono sebagai gubernur yang fokus bekerja dalam menunaikan visi, misi, serta janji kampanye melalui program-program nyata bagi kemajuan Jakarta dan kesejahteraan masyarakat.