Kemudian, uap kering akan memutar turbin pembangkit.
Generator pun akan sontak berputar dengan kecepatan 3.000 rotasi per menit (RPM).
Baca Juga:
Peringati Hari Krida Pertanian 2026,Bupati Karo: Mari Kita Bangun Pertanian Secara Produktif dan Moderen
Proses itu menghasilkan listrik bertegangan 11 kilovolt (kV), yang akan dilipatgandakan menjadi 150 kV sebelum dialirkan ke pelanggan.
Adapun uap yang keluar dari turbin akan didinginkan dengan air di menara pendingin, sebelum dikembalikan kepada enam sumur injeksi yang dikelola PGE.
Ini tak ubahnya upaya untuk memaksimalkan keunggulan komparatif masing-masing BUMN.
Baca Juga:
Kasus Penyekapan Perempuan 3 Tahun Jadi “Kejahatan Kemanusiaan”, KemenHAM Jabar Soroti Penanganan dan Pembiayaan Korban
Kolaborasi keduanya dituangkan dalam Perjanjian Jual-Beli Uap (PJBU).
“Pemakaian uap dihitung berdasarkan jumlah listrik yang dibangkitkan. Sekarang harganya berkisar pada 6,2 sen dollar (Rp 853) per kWh (kilowatt jam),” kata Wahib.