“Kami masih percaya diri bisa mempertahankan produksi uap di kedua lapangan, tidak ada kendala berarti dari sisi kami,” kata Chris, dalam wawancara dengan wartawan, Jumat (30/7/2021).
Menurut Chris, PGE telah berencana melanjutkan eksplorasi di lapangan Tompaso untuk mengembangkan Unit 7 dan 8 pada 2025-2026 jika situasi perekonomian membaik.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Targetkan 100 Ribu Kunjungan Wisatawan Selama Libur Lebaran 2026
Sebab, biaya eksplorasi sangatlah besar. Sebagai gambaran, menyewa rig untuk membuat lubang saja bisa menghabiskan biaya 100.000 dollar AS (Rp 1,4 miliar) per hari.
“Kami tetap bertekad memanfaatkan energi geotermal demi menjaga ketahanan energi di sistem Sulutgo. Energi geotermal ini betul-betul ramah lingkungan dan konstan tanpa gangguan seperti cuaca,” kata Chris.
Ia menambahkan, sumber panas bumi bisa saja bertahan seumur hidup, tetapi itu tergantung manajemen reservoir.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Percepat Perbaikan Jalan Rusak Jelang Mudik Lebaran 2026, Fokus pada Jalur Strategis dan Titik Rawan
Selama ini, ia mencontohkan, temperatur fluida geotermal yang keluar dari sumur produksi biasanya bersuhu 250 derajat Celcius.
Ketika diinjeksikan, temperaturnya masih sangat panas, yaitu 150 derajat Celcius.
Head pf Public Relations PGE Area Lahendong, Bagus Dimas Wicaksono, mengatakan, menjaga sumur produksi maupun reinjeksi dari material lain, seperti air tanah, juga sangat penting.