Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran menyampaikan apresiasi terhadap komitmen sektor swasta, khususnya pengembangan kawasan Central Business District (CBD) PIK2 oleh PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK).
Inisiatif tersebut dinilai berkontribusi nyata dalam mempercepat pembangunan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur menuju kota global yang modern, terintegrasi, dan berdaya saing tinggi.
Baca Juga:
Jaga Kualitas Udara Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Menteri LH Segel Pabrik Logam di Banten
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa langkah strategis yang dilakukan pelaku usaha dalam membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru seperti kawasan MICE di CBD PIK2 merupakan sinergi penting antara sektor swasta dan visi pembangunan nasional.
“Pembangunan kawasan MICE berstandar internasional seperti Nusantara International Convention Exhibition (NICE) adalah bentuk konkret kontribusi sektor swasta dalam memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global,” ujar Tohom, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan bahwa proyek tersebut bukan sekadar pengembangan properti, melainkan bagian dari transformasi ekonomi menuju sektor jasa dan ekonomi kreatif yang bernilai tambah tinggi.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Semua Lahan Kosong Milik Pemerintah di Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur Dibangun Perumahan untuk Masyarakat
Kehadiran NICE yang didukung konektivitas infrastruktur seperti akses tol langsung ke Bandara Soekarno-Hatta, sambungnya, akan mempercepat integrasi kawasan dan meningkatkan mobilitas bisnis, pariwisata, serta investasi.
“Dengan waktu tempuh hanya sekitar 7 menit dari bandara, kawasan ini memiliki keunggulan kompetitif yang sangat kuat. Ini akan menarik event internasional, investor global, serta mendorong multiplier effect yang luas bagi perekonomian nasional,” jelasnya.
Menurut Tohom, pengembangan kawasan berbasis recurring income seperti MICE, hotel, dan properti komersial mencerminkan arah pembangunan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika ekonomi global.
“Kita melihat adanya pergeseran dari ekonomi berbasis sumber daya ke ekonomi berbasis layanan dan pengalaman. Ini adalah langkah maju yang harus terus didorong agar Indonesia mampu menjadi hub regional di bidang konvensi, pameran, dan industri kreatif,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan kawasan CBD PIK2 idealnya dipandang sebagai bagian dari desain besar pengembangan aglomerasi Jabodetabekjur yang terintegrasi, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga tata ruang, transportasi, dan keberlanjutan lingkungan.
“Pengembangan aglomerasi tidak boleh parsial. Harus ada orkestrasi kebijakan antara pusat dan daerah agar kawasan-kawasan baru ini benar-benar menjadi episentrum pertumbuhan yang inklusif dan tidak menimbulkan ketimpangan baru,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan pentingnya memastikan bahwa pembangunan kawasan modern tetap memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja dan peluang usaha.
“Swasta harus terus didorong untuk menghadirkan pembangunan yang inklusif. Ketika investasi masuk, masyarakat lokal harus menjadi bagian dari rantai nilai tersebut, baik sebagai tenaga kerja, pelaku UMKM, maupun mitra usaha,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tohom memandang bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta akan menjadi kunci dalam mewujudkan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagai kota global yang kompetitif.
“Dengan sinergi yang kuat, kita optimistis kawasan ini akan berkembang menjadi pusat ekonomi baru yang tidak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi magnet bagi dunia internasional,” tutupnya.
[Redaktur: Mega Puspita]