Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengintegrasikan moda transportasi massal MRT Jakarta dengan KRL Commuter Line di kawasan Kota Tua.
Program ini dinilai tidak hanya memperkuat wajah Jakarta sebagai kota global, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pengembangan sistem aglomerasi Jabodetabekjur yang terintegrasi dan efisien.
Baca Juga:
Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur Menuju Kota Global, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Rencana Pemprov Jakarta Wajibkan Gedung di Atas 4 Lantai Terkoneksi CCTV Pemerintah DKI
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari visi besar pembangunan berbasis kawasan.
“Integrasi MRT dan KRL di Kota Tua harus dilihat sebagai simpul strategis dalam jaringan aglomerasi Jabodetabekjur. Ini bukan sekadar proyek transportasi, tetapi bagian dari desain besar konektivitas wilayah,” ujar Tohom, Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, pengembangan jalur listrik berbasis lintasan lama sepanjang 16 kilometer hingga 28 kilometer ke depan mencerminkan efisiensi sekaligus keberlanjutan.
Baca Juga:
PBB Sebut Jabodetabekjur Terpadat di Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran Desak Pembenahan Infrastruktur Segera
Ia menilai langkah ini akan memperkuat koneksi antara pusat Jakarta dengan wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, termasuk kawasan Cianjur dalam skema Jabodetabekjur.
Tohom menjelaskan bahwa keberadaan Kota Tua sebagai hub transportasi terintegrasi akan menciptakan distribusi mobilitas yang lebih merata di kawasan aglomerasi.
Dengan konektivitas MRT dan KRL yang semakin kuat, tekanan kepadatan di pusat kota dapat dikurangi karena pergerakan masyarakat menjadi lebih terdistribusi.
“Ketika Kota Tua menjadi simpul transit modern, maka pergerakan komuter dari wilayah Bodetabekjur akan lebih efisien. Ini akan mengurangi ketimpangan akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh kawasan aglomerasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa revitalisasi kawasan seluas 363 hektare dengan fokus awal 80 hektare di zona inti akan menjadi magnet baru tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi pelaku ekonomi dari seluruh wilayah aglomerasi.
Aktivitas ekonomi yang terintegrasi dengan sistem transportasi modern diyakini akan mempercepat terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch menegaskan bahwa konsep aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan simpul-simpul kuat seperti Kota Tua.
“Aglomerasi bukan hanya soal kedekatan geografis, tetapi keterhubungan sistem. Kota Tua berpotensi menjadi role model bagaimana simpul sejarah bisa diintegrasikan dengan sistem transportasi masa depan,” katanya.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemprov DKI dalam menata kawasan, termasuk pengaturan parkir dan penataan PKL.
Menurutnya, aspek mikro seperti ini justru menjadi penentu keberhasilan makro dalam sistem aglomerasi.
“Jika kawasan tertata dengan baik, maka integrasi transportasi akan berjalan optimal. Ini adalah bentuk nyata dari semangat MARTABAT Prabowo-Gibran dalam membangun Indonesia berbasis kawasan yang terkoneksi, produktif, dan berdaya saing global,” tutup Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]