WAHANANEWS.CO, Jakarta – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menjajaki kerja sama strategis dengan Shenzhen Metro Group di Guangdong, Tiongkok, terkait pengembangan Transit-Oriented Development (TOD) dan sistem transportasi terintegrasi sebagai fondasi masa depan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur.
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba menilai, keputusan menjadikan Shenzhen sebagai referensi pembangunan MRT menunjukkan arah baru pembangunan metropolitan yang tidak lagi berpusat hanya pada Jakarta, melainkan menghubungkan seluruh kawasan penyangga dalam satu sistem mobilitas modern.
Baca Juga:
Jangan Tertipu! Banyak Wagyu Mahal di Restoran Ternyata Bukan Asli Jepang
“Jabodetabekjur saat ini sudah menjadi satu ruang ekonomi raksasa. Orang tinggal di Bekasi, bekerja di Jakarta, berbisnis di Tangerang, dan beraktivitas di Bogor atau Cianjur. Karena itu transportasi tidak boleh dibangun secara parsial,” ujar Tohom, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, keberhasilan Shenzhen mengangkut hingga 13 juta penumpang per hari membuktikan bahwa sistem MRT dan TOD mampu menciptakan efisiensi kota sekaligus memperkuat daya saing kawasan metropolitan.
Tohom mengatakan, tantangan terbesar Jabodetabekjur hari ini adalah tingginya mobilitas harian masyarakat yang belum sepenuhnya ditopang transportasi publik terintegrasi.
Baca Juga:
Sudah Ditahan KPK, Ajudan Bupati Tulungagung Ternyata Masih Terima Gaji ASN
Akibatnya, kemacetan terus meluas dan biaya logistik perkotaan semakin tinggi.
“Kalau empat juta lebih mobilitas harian ini tidak dikelola dengan sistem modern, maka kita akan menghadapi kerugian ekonomi yang luar biasa besar setiap tahun. Shenzhen memberi pelajaran bahwa transportasi publik adalah investasi peradaban kota,” katanya.
Ia menilai konsep TOD tidak boleh dipahami hanya sebagai pembangunan apartemen atau kawasan komersial di sekitar stasiun, melainkan sebagai strategi membangun pusat-pusat ekonomi baru yang saling terkoneksi di wilayah aglomerasi.
“Tohom melihat TOD harus menjadi instrumen pemerataan pertumbuhan ekonomi. Jadi bukan semua aktivitas menumpuk di Jakarta, tetapi berkembang merata ke Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor hingga Cianjur melalui konektivitas transportasi massal,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan kerja sama MRT Jakarta dan Shenzhen Metro Group menjadi momentum penting untuk mempercepat pembentukan sistem transportasi lintas wilayah yang benar-benar terintegrasi di Jabodetabekjur.
Menurutnya, konsep aglomerasi yang saat ini didorong pemerintah pusat membutuhkan dukungan infrastruktur mobilitas yang kuat agar perpindahan manusia, barang, dan aktivitas ekonomi berjalan efisien.
“Kalau aglomerasi hanya dibicarakan secara administratif tanpa konektivitas transportasi yang kuat, maka kemacetan dan ketimpangan pembangunan akan tetap terjadi. MRT, LRT, KRL, bus antarkota, hingga TOD harus berada dalam satu ekosistem besar,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara MRT Jakarta dan Shenzhen Metro Group karena dinilai membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kualitas operasional, serta penguatan perencanaan kota modern berbasis transportasi publik.
“Jakarta dan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan lompatan besar agar mampu sejajar dengan kota-kota global. Pengalaman Shenzhen dapat menjadi inspirasi penting untuk membangun metropolitan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” tutur Tohom.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]