Lebih lanjut, Tohom yang juga menjabat sebagai Ketua Aglomerasi Watch mengatakan bahwa keberhasilan Jakarta dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis energi andal akan menjadi role model bagi wilayah penyangga di sekitarnya.
Menurutnya, aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan standar kebijakan yang terintegrasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Baca Juga:
Tim Anggar Jambi Raih Empat Medali Perunggu di Kejurnas Piala RDPS Cup 2026 Palembang
“Aglomerasi Jabodetabekjur harus dibangun dengan pendekatan sistemik. Ketika Jakarta memperkuat infrastruktur lingkungan dan energinya, maka kota-kota penyangga akan terdorong mengikuti standar yang sama. Di sinilah daya saing kawasan metropolitan dibentuk,” kata Tohom.
Ia juga menekankan bahwa sinergi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kunci terciptanya kota yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
MARTABAT Prabowo–Gibran, lanjutnya, akan terus mendorong kebijakan publik yang selaras dengan agenda transisi energi, ekonomi hijau, dan penguatan daya saing wilayah aglomerasi.
Baca Juga:
Hibah Rp115,94 Miliar untuk Smart City IKN, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Pengetahuan dan Teknologi
“Jakarta yang bersih, efisien, dan ditopang energi andal adalah wajah masa depan Indonesia. Dari sinilah aglomerasi Jabodetabekjur dapat naik kelas sebagai pusat peradaban dan ekonomi kawasan,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]