“Ini bukan hanya soal mengurangi kemacetan, tetapi juga meningkatkan produktivitas masyarakat karena waktu perjalanan menjadi lebih singkat dan terprediksi,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa keberhasilan proyek ini akan menjadi indikator penting dalam implementasi kebijakan aglomerasi yang lebih luas di Jabodetabekjur.
Baca Juga:
Media Asing Sorot Jakarta, Kejahatan Hingga Nilai Rupiah Anjlok Jadi Berkah
“Kalau proyek ini berhasil, maka bisa direplikasi di titik-titik lain yang mengalami bottleneck lalu lintas, sehingga kita memiliki sistem transportasi yang lebih adaptif dan terintegrasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, integrasi infrastruktur jalan dengan moda transportasi lain seperti kereta dan angkutan umum akan menjadi kunci dalam menciptakan sistem mobilitas yang berkelanjutan di kawasan metropolitan.
“Ke depan, pembangunan sebaiknya tidak lagi parsial, tetapi harus berbasis ekosistem transportasi yang saling terhubung dan efisien,” katanya.
Baca Juga:
Alarm Krisis Energi Global: Universitas Pertamina Cetak SDM Hybrid Hadapi Masa Mendatang
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga menargetkan kelanjutan pembangunan jalan sejajar rel rute Pasar Minggu menuju Tanjung Barat setelah proses pembebasan lahan rampung.
Proyek ini bertujuan mengurai kemacetan di Jalan Raya Pasar Minggu sekaligus meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas publik di sekitarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]