Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan jangka panjang dalam menghadapi potensi banjir rob yang diprediksi terus berulang akibat dinamika perubahan iklim.
“Rob ini bukan ancaman musiman lagi, tetapi sudah menjadi risiko tahunan bahkan jangka panjang, sehingga pendekatannya harus sistemik dan berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga:
Dicap Kota Kotor, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Menteri Lingkungan Hidup Perbaiki Tata Kelola Sampah Jakarta Menuju Kota Global Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pembangunan tanggul harus disertai dengan perencanaan tata ruang yang adaptif serta penguatan sistem peringatan dini.
“Dengan kombinasi infrastruktur, edukasi masyarakat, dan kebijakan tata ruang yang tepat, maka dampak rob bisa ditekan secara signifikan,” tegasnya.
Langkah Pemprov DKI Jakarta ini juga merupakan respons atas peringatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait potensi banjir pesisir.
Baca Juga:
Menuju Kota Global Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Pembangunan RTH Sebanyak Mungkin di Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur
Dalam keterangannya, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob yang dapat terjadi di wilayah pesisir Jakarta.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan tanggul setinggi 2,5 meter dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap potensi rob yang tidak menentu akibat perubahan iklim.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]