WAHANANEWS.JAKARTA — Arus urbanisasi ke wilayah Jabodetabek pasca perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah pada 2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data sementara pemerintah daerah, jumlah pendatang baru berada pada kisaran 9.089 hingga 12.000 jiwa, atau setara dengansekitar 2.500 hingga 3.500 kepala keluarga (KK).
Baca Juga:
PBB Sebut Jabodetabekjur Terpadat di Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran Desak Pembenahan Infrastruktur Segera
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang samapada 2025 yang mencapai sekitar 10.000 hingga 12.000 jiwa atau sekitar 3.000 hingga 4.000 KK. Penurunan ini sekaligus menunjukkan adanya perubahan tren urbanisasi yang selamaini identik dengan lonjakan signifikan pasca Lebaran.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta, Rudi Hartono (36), mengatakan bahwa pola kedatangan penduduk pada tahun ini mengalami pergeseran. Menurutnya, mayoritas pendatang tidak lagi berasal dari daerah pedesaan atau luar Pulau Jawa, melainkan dari wilayah penyangga di sekitar Jakarta.
“Pendatang saat ini didominasi dari kawasan Bodetabek. Mereka bukan sepenuhnya migran baru, melainkan pekerja yang memperluas akses kerja ke Jakarta,” ujarnya.
Baca Juga:
Urbanisasi Meledak Usai Lebaran, 1.776 Pendatang Baru Masuk Jakarta
Fenomena urbanisasi pasca Lebaran sendiri umumnya terjadi dalam kurun waktu satu hingga dua minggu setelah arus balik, seiring dengan kembali normalnya aktivitas ekonomi di perkotaan. Para pendatang sebagian besar merupakan usia produktif yang mencari peluang kerja atau peningkatan tarafhidup.
Namun demikian, sejumlah faktor dinilai turut menahan lajuurbanisasi ke Jabodetabek. Tingginya biaya hidup di Jakarta, ketatnya persaingan kerja, serta meningkatnya pembangunan ekonomi di daerah menjadi alasan utama masyarakat untuk tidak lagi menjadikan ibukota sebagai tujuan utama menetap.
Pengamat urban dari Universitas Indonesia, Dr. Maya Prasetyo (36), menilai bahwa perubahan ini merupakan bagian dari transformasi pola migrasi masyarakat Indonesia.
“Urbanisasi tidak berhenti, tetapi bentuknya berubah. Sekarang lebih ke mobilitas regional dibanding perpindahan permanen,” jelasnya.
Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah pekerja komuter yang tinggal di kota satelit seperti Bekasi, Depok, atau Tangerang, tetapi bekerja di Jakarta. Skema ini dinilai lebih ekonomis di tengah tingginya biaya hunian di pusatkota.
Seorang pekerja swasta, Andi (27), mengaku memilih tinggal di Bekasi meskipun bekerja di Jakarta.
“Lebih hemat tinggal di luar Jakarta. Saya tetap bisa kerja di pusat kota tanpa harus pindah domisili,” katanya.
Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, tren penurunan ini terlihat cukup signifikan. Pada 2023, jumlah pendatang pasca Lebaran sempat mencapai lebih dari 25.000 jiwa. Sementara pada 2026, jumlah tersebut turun hingga di bawah 12.000 jiwa.
Meski mengalami penurunan, Jabodetabek tetap menjadipusat aktivitas ekonomi nasional yang menarik bagi pencari kerja. Namun, pola perpindahan penduduk kini semakin dinamis dan tidak lagi terpusat pada migrasi permanen ke ibukota, melainkan menyebar dalam bentuk mobilitas kawasan metropolitan.
[Redaktur: Mega Puspita]