"Car Free Night adalah terobosan yang relevan, terutama untuk menghidupkan ruang kota secara lebih inklusif,” tambahnya.
Ia juga menyebutkanbahwa kegiatan seperti pertunjukan seni dan budaya dalam CFD memiliki nilai strategis dalam membangun identitas kota sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.
Baca Juga:
CFD Kota Bekasi Kembali Digelar, Tri Adhianto Imbau Pedagang Tertib
“Ketika ruang publik diisi dengan seni, budaya, dan interaksi sosial, maka kota tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara sosial dan psikologis,” jelasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa kebijakan seperti ini seharusnya tidak berhenti di wilayah administratif DKI Jakarta saja.
“Konsep aglomerasi Jabodetabekjur menuntut adanya harmonisasi kebijakan antarwilayah. CFD dan Car Free Night idealnya juga dikembangkan di kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang, hingga Bogor agar dampaknya lebih luas dan terintegrasi,” tegasnya.
Baca Juga:
Kerajinan Tangan Menarik Perhatian Pengunjung di Car Fee Day
Menurutnya, integrasi tersebut akan memberikan efek berlipat, baik dalam pengurangan emisi karbon, peningkatan kualitas udara, maupun pembentukan budaya hidup sehat lintas wilayah.
Ia juga mendorong adanya sinergi kebijakan transportasi publik dengan pelaksanaan CFD agar manfaatnya semakin optimal.
“Ke depan, konsep ini bisa dikembangkan menjadi agenda regional berbasis aglomerasi, bukan lagi sekadar program lokal DKI. Ini penting untuk mendukung visi pembangunan nasional yang berkelanjutan,” pungkasnya.