JAKARTA.WAHANANEWS - Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Achmad Hariadi mengatakan sampah yang diangkut dari wilayahnya berkisar 1.500 hingga 2.000 ton per hari.
Menjelang libur lebaran bisa berkurang dari 1.500 ton karena aktivitas masyarakat yang berkurang.
Baca Juga:
TPA Cipeucang Ditutup, Tangsel Rogoh Rp90 Juta per Hari untuk Buang Sampah ke Cileungsi
Sampah yang terbesar itu berasal dari rumah tangga dan sampah organik rumah tangga yang paling dominan.
“Jakarta Barat berkisar antara 1.500 sampai 2.000 ton sampah tiap hari diangkut terdiri dari sampah rumah tangga, kawasan, dunia usaha hingga fasus fasum. Dan menjelang liburan lebaran bisa berkurang dari 1.500 karena aktivitas masyarakat yang berkurang,” kata Hariadi kepada Jakarta.WahanaNews.co di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa (24/2/2026).
Hariadi terus melalukan sosialisasi dan edukasi kepada warga untuk memulai langkah nyata dari rumah atau dari hulu dengan melakukan pemilahan sampah di sumber.
Baca Juga:
PLN Dukung Optimalisasi Pengelolaan Sampah Jakarta, Tambah Daya Listrik Jakarta Recycle Center hingga 555.000 VA
“Kunci keberhasilan kita terletak pada perubahan perilaku di hulu. Sudin LH Jakbar terus melakukan komunikasi dengan elemen warga untuk memulai langkah nyata dari yang paling kecil dan dari diri sendiri, dengan memilah sampah " ujar Hariadi.
Ia menjelaskan penyelesaikan pengelolaan sampah ini terus dilakukan Dinas Lingkungan Provinsi DKI Jakarta mulai dari hulu, tengah hingga hilir. Penyelesaian di tengah dan di hilir terus dilakukan diantara dilakukan melalui upaya dengan teknologi energi terbarukan.
“Hal yang bisa kita lakukan adalah penyelesaian di hulu, dengan melakukan implementasi Peraturan Gubernur 77 tahun 2020 tentang pengelolaan sampah lingkup RW,” tegas Hariadi.
Hariadi mengatakan salah satu yang perlu dijalankan dari Pergub tersebut adalah setiap rumah tangga wajib memilah sampah, Bidang Pengelolaan Sampah (BPS) RW berperan dalam mengelola sampah di lingkup RW bersinergi dengan bank sampah unit RW.
“BPS RW sebagai penggerak dalam mengelola sampah lingkup RW, sedang bank sampah sebagai unit pengumpul sampah yang sudah terpilah dari rumah tangga baik sampah organik, anorganik, dan B3,” ungkapnya.
Upaya lain yang dilakukan Sudin LH Jakbar adalah bersinergi dengan PPSU Kelurahan dan Sudin Taman & Hutan Kota dengan pemilahan sampah kayu, ranting, dahan, batang pohon dan sejenis kayu lainnya serta layanan khusus sampah bulky waste (sampah berukuran besar) yang dikumpulkan dan diangkut ke mesin penghancur sampah di Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS) untuk dijadikan bahan kompos.
“Membangun kebiasaan warga agar mau memilah sampah dari rumah, jika hal ini dilakukan maka signifikan sampah tidak banyak dibuang ke Bantar Gebang," ungkapnya.
Oleh karena itu, kata Hariadi, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan edukasi serta membangun sinergitas dan berkolaborasi dengan stakeholder termasuk dengan para pegiat lingkungan.
“Ini juga sesuai arahan Ibu Wali Kota Jakbar untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan para pegiat lingkungan untuk menyelesaikan sampah di sumber atau di hulu,” pungkasnya.